Kyai Asrori Al-Ishaqi RA

Hikmah Kehidupan
Artikel Menarik Tentang Hikmah Kehidupan Dalam Agama Islam | Hikmah Puasa | Hikmah Ramadhan | Kata Mutiara Islami | Surat-Surat Al Qur’an | Kisah Teladan
Selasa, 05 Februari 2013

Sejarah KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi Surabaya

KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi

KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya.

Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani.

Kyai Asrori Al-ishaqi CeramahKiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun.

Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam.

Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relat

WASIAT KANJENG SUNAN KALI JAGA

Wasiat sunan kalijaga dalam kitabnya :
“Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen during olih pituduh (hidayah) saka gisti Allah”
Artinya kurang lebih :
“jika sudah tiba zamannya dimana sungai2 hilang kedalamannya (banyak org yg berilmu yg tdk amalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya, jika masjid2 tak ada adzan, wanita2 hilang malunya (tdk tutup aurat dsb) maka cepat2lah kalian keluar 4 bulan dari desa ke desa (dari kampung ke kampung) dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah utk dakwah) janganlah
sunan_kalijaga_bw_by_astayoga-d5vmsplpulang sebelum mendapat hidayah dari Allah SWT.”
Azas dakwah walisongo ada 10 :
1. sugih tanpa banda (kaya tanpa harta)
artinya : Kekayaan yang sejati adanya di dalam hati, bisa “terbang” kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia.jgn yakin pada harta….kebahagiaan dlm agama, dakwah jgn bergantung dgn harta.
2. ngluruk tanpa bala (menyerbu tanpa banyak orang/tentara)
artinya : Jgn yakin dgn banyaknya jumlah kita,…..yakin dgn pertolongan Allah
“ Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar “ (QS. Al-Baqarah:249)
3. menang tanpa ngasorake (menang/unggul tanpa merendahkan orang)
artinya : Dakwah jgn menganggap hina musuh2 kita / yang di dakwahi….kita pasti unggul tapi jgn merendahkan org lain (jgn sombong)
4. mulya tanpa punggawa (mulia tanpa anak buah)
artinya : Kemuliaan hanya dalam iman dan amalan agama bkn dgn bnyknya pengikut
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat : 13 )
5. mletik tanpa sutang (melompat jauh tanpa tanpa galah/tongkat panjang)
artinya : Niat utk dakwah keseluruh alam, Allah yg berangkatkan kita bukan asbab2 dunia spt harta dsb…
6. mabur tanpa lar (terbang tanpa sayap)
artinya : kita bergerak jumpa umat, ke segala penjuru…dari orang2 ke orang…. jumpa ke rumah2 mereka ..
7. digdaya tanpa aji-aji (“sakti” tanpa ilmu2 kedigdayaan)
Artinya : Kita dakwah, berkeyakinan bahwa segala sesuatunya atas izin Allah semata, hanya bergantung kepada
pertolongon Allah semata, LAA HAU LA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH
( TIADA DAYA UPAYA KECUALI ATAS IJIN ALLAH).
“ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” ( QS. Muhammad : 7 )
8. Menang tanpa tanding (menang tanpa berperang)
Artinya : dakwah dgn hikmah, kata2 yg sopan, ahlaq yg mulia dan doa menangis2 pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah….bukan dgn kekerasan….
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah
yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ( An-Nahl : 125 )
Nabi saw bersabda yg maknanya kurang lebih : ‘Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dgn hikmah) kepada mereka”
9. kuncara tanpa wara-wara (menyebar/terkenal tanpa gembar-gembor dsb)
Artinya : bergerak terus jumpa umat, tdk perlu disiar2kan atau di umum2kan
10 kalimasada senjatane ( senjatanya kalimat iman (syahadat))
Artinya : selalu membawa kalimat Tauhid, membawa islam, mendakwahkan kalimat iman, mengajak manusia pada Islam,
iman dan amal salih….
Para Walisongo berdakwah dengan mempunyai sifat-sifat diantaranya:
1. Mempunyai sifat Mahabbah atau kasih sayang
2. Menghindari pujian karena segala pujian hanya milik Allah SWT
3. Selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan
4. Semangat berkorban harta dan jiwa
5. Selalu memperbaiki diri
6. Mencari ridho Allah SWT
7. Selalu istighfar setelah melakukan kebaikan
8. Sabar menjalani kesulitan
9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT
10. Tidak putus asa dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha
11. Istiqomah seperti unta
12. Tawadhu seperti bumi
13. Tegar seperti gunung
14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit.
15. berputar terus seperti matahari sehingga memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran.
Para Walisongo adalah penerus dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagai penerus atau penyambung perjuangan, mereka rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Para Walisongo rela bersusah payah seperti itu karena menginginkan ridho Allah SWT. Diturunkannya agama adalah agar manusia mendapat kejayaan didunia dan akherat. Segala kebahagiaan, kejayaan, ketenangan, keamanan, kedamainan dan lain-lainnya akan terwujud apabila manusia taat pada Allah SWT dan mengikuti sunnah baginda Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan atau secara seratus persen. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ummat Nabi Muhammad SAW diutus kepermukaan bumi adalah khusus mempunyai tanggung jawab penting. Misi pentingnya adalah untuk mengajak manusia dipermukaan bumi ini ke jalan Allah SWT.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imron : 110).
Asyhadu anla ilaaha ill-Allah wa Asyhadu-anna Muhammadar-RasuluAllah
Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘Alaa Ali Muhammad
Ya Allah terimalah amal ibadah mereka, dan berilah tempat yang tinggi disisi-Mu sebagaimana yang kau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh, Hamba-hamba-Mu yangber[disingkat oleh WhatsApp

*** Besarnya Pengaruh Niat Dalam Diri Kita ***

Hadist Nabi tentang NiatNabi SAW bersabda (artinya) : hanya saja amal perbuatan itu butuh niat dan hanya saja setiap manusia itu tergantung pada niatnya, maka barangsiapa yang hijrah kesuatu daerah tujuan untuk Allah dan rosul-Nya maka hasil hijrah adalah kepada Allah dan rosul-Nya, dan barangsiapa yang hijrah ke suatu daerah tujuan untuk dunia atau untuk menikahi perempuan maka hasil hijrahnya adalah sesuai dengan apa yang dia tujukan.

Kita setiap hari melakukan aktifitas dan kesibukan serta pekerjaan, berangkat pagi hari dan pulang sore atau bahkan malam hari. Kalau tujuan kita keluar dari rumah hanya sekedar untuk mendapatkan harta benda dan dunia semata, maka hanya itu yang akan kita peroleh dari jerih payah kita

Kita setiap hari makan dan mnum untuk menunjang kebutuhan hidup kita dan tenaga serta energi kita. Kalau tujuan kita mengisi perut hanya sekedar untuk kenyang dan mendapatkan energi semata, maka hanya itu yang kita dapatkan dari aktifitas rutin kita

Namun,, kalau saat kita keluar dari rumah untuk bekerja dan beraktifitas, selain tujuan kita untuk mendapatkan harta benda, kita niatkan juga untuk mencari rizki yang halal nan berkah, untuk bekal ibadah kita, dan kita niatkan rizki yang kita peroleh sebagian kita sedekahkan buat saudara kita yang membuatuhkan, maka setiap langkah yang kita lakukan adalah bernilai ibadah.

Begitu juga saat kita makan dan minum, kalau kita selain untuk mendapatkan energi, kita juga niatkan agar kita bisa semangat dalam beribadah dan untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, maka setiap butir nasi yang masuk kedalam perut kita bernilai pahala dari Allah SWT.

Tapi juga perlu kita ingat.. kalau perbuatan dan aktifitas yang kita lakukan itu bisa menghasilkan ibadah dan pahala dari Allah SWT karena niat yang kita tanamkan didalamnya, sebaliknya amal perbuatan aktifitas kita juga bisa bernilai maksiat dan dosa yang kita peroleh karena niat yang kita sertakan didalamnya.

Oleh karena itu mari kita pandai-pandai dalam menanamkan niat dalam setiap aktifitas keseharian kita, sehingga apa yang kita lakukan semua bernilai ibadah dan mendapatkan pahal serta keridhoan Allah SWT.

Deklarasi Nahdlatut Tujjar

“Wahai pemuda putera bangsa yang cerdas pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan ekonomi yang beroperasi, dimana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom”

1977008_449091461911218_6910040186224689679_n~(K.H Hasyim Asy’ari, Deklarasi Nahdlatut Tujjar 1918)~

Dengan nama Allah yang telah menjadikan firmann-Nya ini sebagai mukjizat mengalahkan orang kafir yang durhaka. “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.

Allah telah menjadikan khusnudhon antara sesame hambanya sebagai suatu kenyataan yang harus ada dan tersembunyi, menjadikan gairah sebagai penjaga agama dan sebagai tonggak keberanian yang terpuji dan yang menyebabkan terikatnya orang-orang yang telah bersyahadat.

Rasulullah bersabda: barang siapa yang mencari harta benda yang halal agar dapat menjaga dirinya jangan menjadi peminta-minta dan berusaha demi keluarganya dan agar dapat membagi kasih sayingnya kepada tetangganya maka orang itu akan bertemu pada Allah SWT dalam keadaan wajahnya bersinar bagai rembulan purnama. Rasul juga bersabda bahwa: pedagang yang jujur akan dibayar pada hari kiamat nanti bersama pada shiddiqin dan syuhada.

Setelah kita melihat merosotnya bangsa dan anak negeri kita, serta kecilnya perhatian dan kepedulian mereka terhadap syariat Islam yang dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah penuntut ilmu. Pudarnya bermacam-macam ikatan dan sebagian mereka telah membebaskan diri menjadi orang bebas sehingga tidak bisa melaksanakan shalat berjamaah. Dilain pihak sekolah Belanda penuh sesak, sdang mereka sama sekali tidak menghargai umat beragama. Padahal ditangan mereka ada kemegahan, kecendikiawanan dan kekuasaan disegala penjuru, didarat, laut dan setiap pelosok.

Setelah melihat itu semua, kita dipaksa berpikir dan meneliti dengan cermat sebab musabab timbulnya hal tersebut. Hasilnya kita telah mendapatkan bahwa bagi para ustadz ada tiga penyebabnya. Sedangkan bagi para penuntut ilmu, penyebabnya bahkan tidak terhitung lagi.

Sebab pertama, mereka melakukan tajarrud (sikap mengisolir dan membebaskan dari mencari nafkah), sedangkan mereka belum mampu. Akibatnya sebagian besar mereka merendah-rendahkan diri minta bantuan orang kaya yang bodoh atau penguasa yang durhaka.

Sebab kedua, ketidakpedulian mereka terhadap tetangga yang belum tahu rukun sholat, bahkan belum bisa melafalkan syahadat. Mereka tidak mendapatkan orang yang berdakwah membawakabar gembira dan kabar takut urusan agama. Mereka tidak mendapat orang yang dapat membimbing untuk urusan mencari rizki.

Sebab ketiga, mereka merasa tidak memerlukanilmunya orang lain dan mereka merasa cukup dengan ilmu yang telah dipelajari, sehingga merasa cukup dengan ilmu yang telah dipelajari, sehingga merasa tidak perlu bermusyawarah atau suatu ikatan atau suatu jam’iyah yang khusus untuk para ulama guna membahas hal-hal yang menunjang kokohnya agama dan membahas hukumnya menulis dengan tulisan Belada, membahas masalah agar mereka kembali kepada adanya persamaan dan menghargai umat beragama. Membahas sebab terjadinya maksiat.

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suau badan usaha ekonomi yang beroperasi, dimana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat.

Wahai pteman-teman sejawat, apakah kalian tidak melihat sekolah-sekolah asing dan beribu-ribu sekolah dikampung-kampuung yang penuh sesak? Padahal sekolah itu tidak mengajar sama sekali syariat Islam, tetapai yang diajarkan adalah ini dan itu.

Atas dasar penelitian yang cermat dan pemikiran yang panjang dan disertai dalil-dalil tersebut, Syekh, ustadz dan paman Hasyim dari Tebuireng mendirikan sebuah badan usaha dengan dibantu oleh yang nama dan jabatannya tersebuyt diabawah ini. Badan usaha ini diberi nama; Badan Usaha Al-Inan dengan singkatan SKN.

Soerabaia, 1918

Syekh Hasyim Asy’ari

Ketua SKN


Abdul Wahab Chasbullah

Bendahara SKN

Romo Kyai Ahmad Asrori Al Ishaqi RA Dan Penjual Minyak Wangi

5254_134257873754_521053754_3375469_6918660_n1Makkah Al Mukarromah, April 2004. Pagi hari setelah keluar dari Masjid Al Haram, Romo YAI RA mengajak sejumlah pendereknya untuk bersantai, berjalan jalan ke suatu area perbelanjaan tradisional. Waktu itu, tempat tersebut lebih dikenal oleh orang jawa dengan sebutan “Pasar Seng”.

Serombongan yang 6 orang penderek itu, dengan dipimpin oleh Romo YAI RA, keluar-masuk toko. Masuk ke toko kitab sebentar, keluar. Ganti masuk ke toko souvenir. Sebentar, keluar lagi, masuk ke toko arloji. Sampai akhirnya Beliau RA masuk ke toko minyak wangi. Otomatis semua penderek juga ikut masuk ke toko tersebut.

Entah kenapa, atau bisa jadi karena agak kecapekan, Romo YAI RA memilih duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk pembeli, menghadap etalase, di salah satu sudut bagian dalam toko minyak wangi itu. Persis di depan Romo YAI RA duduk, hanya dipisahkan oleh almari etalase, berdiri seorang laki laki arab yang agak lanjut usia. Laki laki inilah yang kemudian diketahui sebagai pemiliknya.

Sementara para penderek memilih-milih mencari aroma yang dicocoki, Romo YAI RA dan lelaki pemilik itu ternyata dengan cepat kelihatan akrab dan menjalin obrolan dalam bahasa arab. Entah apa yang sedang diobrolkan oleh kedua beliau ini, tapi dari suasana yang awalnya penuh canda tawa, selanjutnya kelihatan berkembang dan berubah menjadi seperti sedang bicara tentang hal yang serius. Makin lama, makin kelihatan sama sama serius.

Lalu, sekitar setengah jam kemudian, Romo YAI RA memutus pembicaraan yang serius itu, dan sepertinya dengan tiba tiba saja, Beliau RA menjauh dan membalikkan tubuhnya, beralih menghadap, melihat-lihat minyak wangi. Tapi di sudut sana tadi sangat kelihatan, wajah lelaki tua pemilik toko itu diam terperangah. Wajahnya tegang, tak bergerak ataupun berkata, dan dari jarak sekitar 4 meter, matanya terus menatap punggung Romo YAI RA.

Mungkin karena tak bisa menahan diri, akhirnya si pemilik ini memanggil dan berbisik menanyai Fulan, salah seorang dari penderek. Karena Fulan yang ditanya itu tak bisa berbahasa arab, maka bergantilah bicara dalam bahasa inggris, meskipun “gratul-gratul”.

Intinya begini. Lelaki ini bertanya sembari jarinya menunjuk ke Romo YAI RA, “Oang yang kau ikuti itu siapa?” Dijawab balik oleh Fulan, “Memang kenapa?”. Lalu lelaki ini bicara dengan nada serius dan setengah gemetaran.

“Saya ngobrol dengan dia hanya sebentar. Tapi, Wa-Allaah, saya sangat yakin, itu bukan orang sembarangan. Wa-Allaah, itu bukan orang sembarangan” Diulang sampai tiga kali.

“Meskipun saya ini pedagang minyak wangi, tapi setidaknya saya dulu pernah mengaji. Saya pernah ber-Guru. Dari situ Guru saya membuat saya mengerti, akan tanda tanda orang yang istimewa dan yang diistimewakan oleh Robbul-‘Izzah Subhaanahu Wata’aalaa. Namun sekian tahun baru kali ini membuktikan. Inilah orang itu. Wa-Allaah, Inilah orang itu”

Belum habis bicara, Fulan mendengar suara Beliau RA setengah berteriak memanggil namanya. Spontan Fulan dengan tergesa memohon ijin lelaki tersebut dan langsung mendekat menghadap Beliau RA. Beliau RA lantas bertanya, “Bicara apa habib itu?”

Maka diceritakanlah secara ringkas omongan yang barusan didengarnya. Syahdan, Romo YAI RA spontan bergegas sembari dawuh ke para penderek, “Ayo … Ayo … Cepat kita berpindah. Cepat. Cepat” Romo YAI RA dengan langkah cepat, keluar meninggalkan toko itu, meski si lelaki pemilik tadi berteriak teriak memanggilnya. Romo YAI RA hanya menoleh sebentar dan kedua tangannya mengisyaratkan sungkem pamit, sambil kaki tetap melangkah dengan cepat. Langsung menuju ke hotel tempat menginap.

HABIB ALI AL-HABSYI RA BERTEMU RASULULLAH SAW

Bismillah
PERTAMA KALI HABIB ALI AL-HABSYI RA BERTEMU RASULULLAH SAW

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Juma’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pendidikan Ibunda Habib Ali agar mencintai Rasulullah SAW
Di waktu umur Habibana ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata,
“Yaa ‘Ali, engkau mau dapat ridlo ku tidak di dunia dan akhirat..?”
“Iya, ya ummii..” Jawab beliau.
“Kalau engkau mau dapat ridlo dariku, ada syaratnya..!!” Kata ibunda Habib ‘Ali.
“Apa syaratnya, ummi..??”
“Hmm.. Engkau harus bertemu dengan datukmu, Rasul Allah SAW.” Jawab umminya.Simtud Durror
Habib ‘Ali al-Habsyi yang masih kecil bingung. Dia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bertemu dengan datuknya. Mulailah beliau mencari tahu dan belajar dengan guru-gurunya. Pergilah beliau ke salah satu tempat majelis ulama, kemudian dia berkisah tentang permasalahannya untuk mendapat ridlo ibunya dengan cara seperti tadi. Lalu gurunya berkata,
“Yaa ‘Ali, kalau engkau ingin bertemu dengan Rasul Allah SAW maka engkau harus mencintai Beliau SAW dahulu dan tak akan ada rasa cinta jika engkau tak kenal dengan yang di cinta.”

Belajarlah beliau tentang sejarah Baginda Nabi SAW. Tidak hanya itu, setiap orang alim yang ada selalu di tanya tentang masalah ini. Walhasil, banyaklah guru beliau. Ada yang berkisah kalau guru beliau mencapai ribuan orang.
Nah.. seiring waktu berjalan, bertambahlah umur beliau sampai mencapai usia kurang lebih 20 tahun, beliau akhirnya bermimpi bertemu datuknya SAW. Begitu terbangun dari tidurnya, beliau langsung memberitahu ibunya.
“Yaa ummii… ‘Ali sudah bertemu Baginda Rasul Allah SAW.” Kata al-Habib ‘Ali sambil menangis haru. Tetapi, apa jawab ibunda beliau..!!!??
“Yaa ‘Ali, di mana engkau bertemu Beliau?”
“Di dalam mimpiku, Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.
“Yaa ‘Ali, pergi engkau dari hadapanku. Engkau bukan anakku…!!!!”
Menangislah beliau… Keinginan hati untuk menyenangkan sang ibu pupus sudah. Dalam kegelisahannya, beliau kembali bertanya kepada guru-gurunya, namun tak satupun dapat menjawabnya. Mengapa ibu beliau justru marah setelah mendapat laporan beliau tentang mimpinya.

Pada suatu malam beliau kembali bermunajah untuk dapat bertemu datuknya SAW. Larut dalam tangisan tengah malam, al-hasil tidurlah beliau. Dan al-Hamdulillah beliau kembali beremu dengan datuknya SAW.
“Yaa Jaddy (Kakek ku), Yaa Rasul Allah SAW.. Anakmu ini ingin menanyakan tentang perihal ummii.” Kata al-Habib ‘Ali kepada Rasul Allah SAW.
“Duhai ‘Ali anakku, sampaikan salamku kepada ibumu..” Jawab Rasul Allah SAW di dalam mimpinya al-Habib ‘Ali.
Begitu bangun, beliau langsung mengetuk pintu kamar umminya sambil menangis tersedu-sedu.
“Duhai Ummii, anakmu telah bertemu lagi dengan Baginda Rasul Allah SAW dan Beliau kirim salam kepada Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.
Tiba-tiba dari kamar, ibunda beliau keluar dan berkata,
“Yaa ‘Ali, kapan dan dimana engkau bertemu datukmu SAW..??” Tanya ibunda al-Habib ‘Ali
“Aku bertemu beliau di dalam mimpiku.” Jawab al-Habib ‘Ali dengan tangisan yang tak putus-putus.
“Pergi dari hadapanku ya ‘Ali…!!! Engkau bukan anakku..!!” Jawabnya. Jawaban sang ibu benar-benar meruntuhkan hati al-Habib ‘Ali. Kemudian pintu kamar ibunda al-Habib ‘Ali al-Habsyi tertutup lagi, meninggalkan beliau seorang diri.

Esok harinya beliau mengadu kembali kepada guru-gurunya namun tak satupun dari mereka yang dapat menenangkan hati beliau. Semakin hari kegelisahannya semakin menjadi-jadi, setiap detik setiap saat beliau terus-terusan mengadu dan bermunajah serta bertawajjuh kepada Allah dan Rasul Allah SAW.
Tibalah suatu malam, beliau hanyut jauh ke dalam lautan munajah dan mahabbah yang amat sangat dahsyat kepada Nabi SAW. Kemudian beliau sujud yang sangat lama, tiba-tiba dalam keadaan sujud beliau mendengar suara yang lemah lembut,

“Yaa ‘Ali, angkat kepalamu..!!! Datukmu ada di mata zhohirmu.”

Begitu al-Habib ‘Ali al-Habsyi mengangkat kepalanya seraya membuka kedua pelupuk matanya perlahan-lahan, bergetarlah seluruh tubuh Habibana ‘Ali. Beliau menangis dan berkata,

“Marhaban bikum Yaaa Jaddii, Yaa Rasul Allah..”
Ternyata sosok tersebut adalah Rasul Allah SAW berada di hadapan al-Habib ‘Ali. Kemudian Rasul Allah SAW berkata, “Duhai anakku, sampaikan salamku kepada ummi mu dan katakan kepadanya kalau aku menunggunya di sini..!!”

Seolah-olah gempa. Bergetar sekujur tubuh al-Habib ‘Ali al-Habsyi, beliau merangkak ke kamar ibundanya.
“Yaa ‘Ummi, aku telah bertemu kembali dengan Rasul Allah SAW dengan mata zhohirku dan Beliau menunggu Ummi di kamar ‘Ali..”

Ibunda beliau membuka pintu kamarnya seraya berkata, “Ini baru anakku engkau telah mendapat ridlo dari ku.”
…… Inilah didikan dari seorang ibu kepada anaknya untuk mencintai Rosul Allah SAW.

di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul “Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya)
.Dipetik dari: Untaian Mutiara – Terjemahan Simtud Duror oleh al Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi RA….

semoga berkah dari pada Beliau” mengalir kepada kita semua, tatkala karangan beliau tsb dibaca disetiap acara haul di daerah kita dan menjadikan tawasul kita dengan baginda Rasul melalui kisah” tsb.
aminnnnnn………….

HAL- HAL YG MENYEBABKAN ORANG MENJADI FAKIR (kitab Ta’limul Muta’allim)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يرد القدر إلا بالدعاء، ولا يزيد فى العمر إلا البر، فإن الرجل ليحرم من الرزق بذنب يصيبه ثبت بهذا الحديث أن إرتكاب الذنب سبب حرمان الرزق خصوصا الكذب فإنه يورث الفقر, وقد ورد فيه حديث خاص,

zarnujiTalimalMutaallim Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : ” tdk bisa menolak taqdir kecuali dengan doa dan tdk bisa menambah umur kecuali dengan amalan kebaikan, sesungguhnya seseorang terhalangi dari rizkinya sebab dosa yg dilakukannya.”
telah tetap dalam hadia ini bahwa melakukan dosa menjadi sebab terhalanginya rizky, khususnya dosa berbohong karena berbohong bisa menyebabkan kefakiran dan telah ada hadis khusus tentangnya.

وكذا نوم الصبحة يمنع الرزق, وكثرة النوم تورث الفقر, وفقر العلم أيضا
والنوم عريانا, والبول عرينا، والأكل جنبا, والأكل متكئا على جنب, والتهاون بسقوط المائدة, وحرق قشر البصل والثوم, وكنس البيت فى الليل بالمنديل, وترك القمامة فى البيت,

begitu juga tidur di waktu subuh bisa mencegah rizky, memperbayak tidur menyebabkan kefakiran juga fakir ilmu,
tidur dlm keadaan telanjang bulat, kencing dengan telanjang bulat, makan sambil tiduran miring, menganggap remeh jatuhnya makanan, membakar kulit bawang putih dan bawang merah, menyapu di malam hari dengan kain dan meninggalkan sampah berserakan di dalam rumah.

والمشي قدام المشايخ, ونداء الوالدين باسمهما, والخلال بكل خشبة وغسل اليدين بالطين والتراب, والجلوس على العتبة, والاتكاء على أحد زوجي الباب, والتوضؤ فى المبرز, وخياطة الثوب على بدنه, وتجفيف الوجه بالثوب, وترك العنكبوت فى البيت

berjalan di depan para guru/orang tua, memanggil ortu dengan namanya saja, membersihkan makanan disela sela gigi dengan benda yg kasar, mencuci kedua tangan dengan tanah dan debu, duduk di ambang pintu, bersandar pada salah satu pintu, berwudhu di tempat istirahat seseorang,
menjahit baju di badan, mengeringkan wajah dengan baju dan tdk membersihkan rumah laba2 di rumah

, والتهاون فى الصلاة, وإسراع الخروج من المسجد بعد صلاة الفجر, والإبتكار بالذهاب إلى السوق, والابطاء فى الرجوع منه, وشراء كسرات الخبز من الفقراء, والسؤال, ودعاء الشر على الوالد, وترك تخمير الأوانى وإطفاء السراج بالنفس: كل ذلك يورث الفقر, عرف ذلك بالآثار

meremehkan sholat, bersegera keluar dari masjid setelah sholat fajar, berpagi2 berangkat ke pasar, berlambat2 kembali dari pasar, membeli sisa2 roti dari orang fakir, meminta minta, mendoakan keburukan thd ortu, tdk menutup cawan, dan mematikan lampu minyak dengan nafas, semua hal itu bisa menyebabkan kefakiran, itu bisa diketahui dari atsar.

وكذا الكتابة بالقلم المعقود، والامتشاط بالمشط المنكسر، وترك الدعاء للوالدين، والتعمم قاعدا، والتسرول قائما، والبخل والتقتير، والإسراف، والكسل والتوانى والتهاؤن فى الأمور

begitu juga menyebabkan kefakiran adalah menulis dengan pena yg melengkung, bersisir dengan sisir yg rusak, tdk mendoakan kedua ortunya, memakai serban sambil duduk, memakai celana sambil berdiri, pelit, terlalu irit, terlalu berlebihan, malas, menunda nunda dan menganggap remeh/ menyepelekan urusan2, semuanya itu menyebabkan fakir seseorang.

wallohu a’lam.