budidaya tanaman padi

BUDIDAYA TANAMAN PADI

Oleh :

ALFIYAN ARIF (0910480184)

JENIS TANAMAN

Klasifikasi tanaman padi (Oryza sativa) adalah sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monotyledonae

Family : Gramineae (Poaceae)

Genus : Oryza

Spesies : Oryza spp.

Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan. Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi), Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120 (dataran rendah).Varitas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah).

SYARAT PERTUMBUHAN
Iklim

1. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.

2. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim

kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.

3. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-23 derajat C.

4. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.

5. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.
Media Tanam

1. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.

2. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.

3. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi.Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral.Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus.
Ketinggian Tempat

Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman semusim yang sangat bermanfaat diIndonesia karena menjadi bahan makanan pokok.Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.Bila didataran tinggi kita mengenal padi gogo,maka didataran rendah kita mengenalnya dengan padi sawah.Umumnya padi dapat dibudidayakan sampai pada ketinggian 1.200 m dpl.
PEDOMAN BUDIDAYA
Pembibitan

Gambar 1. Benih tanaman padi

Persyaratan Benih

Syarat benih yang baik:

a) Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang.

b) Warna gabah sesuai aslinya dan cerah.

c) Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya.

d) Daya perkecambahan 80%.

Penyiapan Benih

Benih dimasukkan ke dalam karung goni dan direndam 1 malam di dalam air mengalir supaya perkecambahan benih bersamaan.

Teknik Penyemaian Benih

Untuk satu hektar padi sawah diperlukan 25-40 kg benih tergantung pada jenis padinya. Lahan persemaian dipersiapkan 50 hari sebelum semai. Luas persemaian kira-kira 1/20 dari areal sawah yang akan ditanami. Lahan persemaian dibajak dan digaru kemudian dibuat bedengan sepanjang 500-600 cm, lebar 120 cm dan tinggi 20 cm. Sebelum penyemaian, taburi pupuk urea dan SP-36 masing-masing 10 gram/meter persegi. Benih disemai dengan kerapatan 75 gram/meter persegi.

Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 5 cm. Semprotkan pestisida pada hari ke 7 dan taburi pupuk urea 10 gram/meter persegi pada hari ke 10.

Pemindahan benih

Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 25-40 hari, berdaun 5-7

helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang

hama dan penyakit.
Pengolahan Media Tanam

Gambar 2. Pembajakan Sawah

a) Bersihkan saluran air dan sawah dari jerami dan rumput liar.

b) Perbaiki pematang serta cangkul sudut petak sawah yang sukar dikerjakan dengan bajak.

c) Bajak sawah untuk membalik tanah dan memasukkan bahan organik yang ada di permukaan. Pembajakan pertama dilakukan pada awal musim

tanam dan dibiarkan 2-3 hari setelah itu dilakukan pembajakan ke dua yang disusul oleh pembajakan ketiga 3-5 hari menjelang tanam.

d) Ratakan permukaan tanah sawah, dan hancurkan gumpalan tanah engan cara menggaru.

e) Penggenangan lahan yang akan digunakan untuk budidaya memilki fungsi selain untuk membasahi lahan,juga untuk mengetahui apakah permukaan tanah sudah rata atau belum rata.

f) Lereng yang curam dibuat teras memanjang dengan petak-petak yang dibatasi oleh pematang agar permukaan tanah merata.
Teknik Penanaman

Pola Tanam

Pada areal beririgasi, lahan dapat ditanami padi 3 x setahun, tetapi pada sawah tadah hujan harus dilakukan pergiliran tanaman dengan palawija.Pergiliran tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi, biasanya setelah satu tahun menanam padi. Untuk meningkatkan produktivitas lahan,seringkali dilakukan tumpang sari dengan tanaman semusim lainnya,misalnya padi gogo dengan jagung atau padi gogo di antara ubi kayu dan

kacang tanah.Pada pertanaman padi sawah, tanaman tumpang sari ditanam di pematang sawah, biasanya berupa kacangkacangan.

Penanaman Padi

Bibit ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 20 x 20 cm, 25 x 25 cm, 22 x 22 cm atau 30 x 20 cm tergantung pada varitas padi, kesuburan tanah dan musim. Padi dengan jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih lebar. Pada tanah subur jarak tanam lebih lebar. Jarak tanam di daerah pegunungan lebih rapat karena bibit tumbuh lebih lambat. 2-3 batang bibit ditanam pada kedalaman 3-4 cm.
Pemeliharaan Tanaman
Penjarangan dan Penyulaman Padi

Penyulaman tanaman yang mati dilakukan paling lama 14 hari setelah tanam. Bibit sulaman harus dari jenis yang sama yang merupakan bibit cadangan pada persemaian bibit.Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan lahan dan menghindari timbulnya penyakit pada tanaman padi.
Penyiangan Padi

Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang dikerjakan sekaligus dengan menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat berumur 3 dan 6 minggu dengan menggunakan landak (alat penyiang mekanis yang berfungsi dengan cara didorong) atau cangkul kecil.Hal ini bertujuan untuk menghindari tanaman pengganggu yang dapat menyebabkan kompetisi dengan tanaman utama(padi) terhadap unsur hara,air,cahaya dll.
Pengairan Padi

Gambar 3.Irigasi

Syarat penggunaan air di sawah:

a) Air dengan aliran air tidak deras dan bila mengandung lumpur dan kotoran ,maka hal ini juga dapat menguntungkan karena biasanya air yang berlumpur banyak mengandung unsur hara.

b) Air harus bisa menggenangi sawah dengan merata,maka dari itu air dibutuhkan dalam jumlah yang banyak.

c) Lubang pemasukkan dan pembuangan air letaknya berseberangan agar air merata di seluruh lahan.

d) Air tidak tercemar bahan kimia berbahaya dan juga sampah-sampah rumah tangga terutama plastik.

e) Genangan air harus pada ketinggian yang telah ditentukan.Setelah tanam, sawah dikeringkan 2-3 hari kemudian diairi kembali sedikit demi sedikit. Sejak padi berumur 8 hari genangan air mencapai 5 cm.

Pada waktu padi berumur 8-45 hari kedalaman air ditingkatkan menjadi 10 sampai dengan 20 cm. Pada waktu padi mulai berbulir, penggenangan sudah mencapai 20-25 cm, pada waktu padi menguning ketinggian air dikurangi sedikit-demi sedikit.
Pemupukan Padi

Gambar 4.Pemupukan Tanaman Padi

Pupuk Hayati MiG-6 Plus sebanyak 6 liter/ha per musim dengan aplikasi 2 liter diberikan 3 hari sebelum tanam dengan cara disemprot secara merata pada lahan yang airnya macak-macak kemudian aplikasi selanjutnya pada saat umur padi 30 hari dan pada saat keluar malai masing-masing 2 liter / ha. Pupuk anorganik yang dianjurkan Urea=200 kg/ha, TSP=50-75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha. Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam. Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari sebelum tanam dengan cara disebarkan dan

dibenamkan. Pupuk KCl diberikan 2 kali yaitu pada saat tanam dan saat menjelang keluar malai.
Peranan N,P dan K pada Padi

Ketiga unsur ini mempunyai peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, dimana ketiga unsur ini saling berinteraksi satu sama lain dalam menunjang pertumbuhan tanaman, unsur nitrogen dapat diperoleh dari pupuk Urea dan ZA. unsur P dari pupuk TSP/SP-36, sedangkan K dalam KCI dan ZK.

Peranan Nitrogen

Unsur N adalah merupakan unsur yang cepat kelihatan pengaruhnya terhadap tanaman. Peran utama unsur ini adalah :

Merangsang pertumbuhan vegetatif (batang dan daun).
Meningkatkan jumlah anakan
Meningkatkan jumlah bulir/ rumpun

Kurang unsur N menyebabkan:

Pertumbuhannya kerdil
Daun tampak kekuning-kuningan
Sistem perakaran terbatas

Kelebihan unsur N menyebabkan tanaman:

Pertumbuhan vegetatif memanjang (lambat panen)
Mudah rebah
Menurunkan kualitas bulir.
Respon terhadap serangan hama/ penyakit.

Peranan Posfor

Secara detail fungsi posfor dalam pertumbuhan tanaman sukar di utarakan, namun demikian fungsi-fungsi utama posfor dalam pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut :

Memacu terbentuknya bunga, bulir pada malai
Menurunkan aborsitas
Perkembangan akar halus dan akar rambut
Memperkuat jerami sehingga tidak mudah rebah
Memperbaiki kualitas gabah

Kekurangan posfor menyebabkan tanaman

Pertumbuhan kerdil
Jumlah anakan sedikit w
Daun meruncing berwarna hijau gelap

Peranan Kalium

Kalium merupakan satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman.Peranan utama kalium dalam tanaman ialah sebagai aktivator berbagai enzim.Dengan adanya kalium yang tersedia dalam tanah menyebabkan:

Ketegaran tanaman terjamin
Merangsang pertumbuhan akar
Tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit
Memperbaiki kualitas bulir
Dapat mengurangi pengaruh kematangan yang dipercepat oleh posfor
Mampu mengatasi kekurangan air pada tingkat tertentu

Kekurangan Kalium menyebabkan :

Pertumbuhan kerdil
Daun kelihatan kering dan terbakar pada sisi-sisinya.
Menghambat pembentukan hidrat arang pada biji.
Permukaan daun memperlihatkan gejala klorotik yang tidak merata
Munculnya bercak coklat mirip gejala penyakit pada bagian yang berwarna hijau gelap.

Kelebihan kalium dapat menyebabkan daun cepat menua sebagai akibat kadar magnesium daun dapat menurun, kadang-kadang menjadi tingkat terendah sehingga aktifitas fotosintesa terganggu.
Pentingnya Pemupukan Secara Berimbang

Pemupukan secara berimbang utamanya keseimbangan antara Urea, SP – 36/TSP dan KCI yang harus diberikan tergantung pada keadaan tanah. Unsur utama yang terkandung dalam pupuk ini bila digunakan secara tepat tidak saja mengendalikan, mengimbangi, mendukung dan saling mengisi satu, sama lain diantara ketiga. jenis pupuk ini, akan tetapi juga dengan unsur-unsur lainnya. Hal ini sangat penting karena ada keterkaitan ekonomi dan efektivitan pemupukan.Pupuk yang diberikan merupakan tambahan bagi unsur yang sudah ada dalam tanah, sehingga jumlah nitrogen, posfor dan kalium yang tersedia bagi tanaman berada dalam perbandingan yang tepat.

Pada waktu bersamaan ketersediaan unsur penting (esensial) lainnya juga harus dalam keadaan optimal. Sebagai contoh apabila pemupukan padi hanya dipupuk dengan urea saja, kelihatannya sangat cepat dan rimbun akan tetapi sangat lemah sehingga mudah rebate dan tidak tahan, terhadap serangan hama dan penyakit. Demikian pula sebaliknya apabila hanya dipupuk TSP/SP-36 atau KCI saja pupuk ini tidak akan berpengaruh optimal terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Pada prinsipnya keseimbangan hara atau kesuburan secara menyeluruh harus sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman yang lebat dan normal.
Waktu Pemberian Pupuk N, P dan K

Waktu pemberian pupuk disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman dan jenis pupuk yang akan menjamin untuk optimalnya penyerapan unsur pupuk

tersebut oleh tanaman. Pemberian pupuk TSP / SP-36 umumnya diberikan bersamaan tanam, sedangkan Urea diberikan dua kali yaitu ½ dosis saat tanam(satu minggu setelah tanam) ½ dosis 35 hari setelah tanam (saat tanaman aktif). Pemberian pupuk KCL, pads prinsipnya pemberian lebih sedikit tetapi lebih sering, itu lebih baik, dibandingkan dengan pemberian dalam jumlah banyak tapi diberikan sekaligus.

Untuk menjamin efektifnya penyerapan unsur hara dari pupuk KCL, maka pemberiannya disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman padi yaitu 1/3 dosis 1 minggu setelah tanam, 1/3 dosis 35 hari setelah tanam (saat anakan aktif) dan 1/3 dosis 55 hari setelah tanam saat primordia).
Cara Aplikasi Pupuk

Pemupukan dilakukan secara manual dengan sebar atau hambur merata pada areal tanaman.Untuk aplikasi pupuk urea dan KCL pada waktu yang bersamaan dapat dicampur secara merata sebelum diaplikasikan dan setelah dicampur harus segera ditabur, tidak boleh disimpan terlalu lama karena dikhawatirkan dapat terkontaminasi senyawa lain yang tidak diinginkan.

Selain ditebarkan atau dihamburkan,bisa juga dengan penyemprotan.Namun bila disemprotkan,petani harus mengganti dengan pupuk cair dan penyediaan alat semprot yang tentunya menambah lagi ongkos produksi.
Penyemprotan Pestisida

Gambar 5.Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan pestisida dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dari intensitas serangan.Semakin banyak intensitas serangan hama maupun penyakit,semakin intens juga pengaplikasian pestisidanya.Pestisida sangat beragam,namun yang dianjurkan adalah pestisida yang ramah lingkungan dan memperhatikan aspek ekologi.

Untuk pestisida pada tanaman padi,terutama yang ditargetkan pada musuh utama padi yakni wereng coklat,akan dibahas pada sub bab Pengendalian Hama Terpadu Wereng Coklat.
HAMA DAN PENYAKIT
Hama

Gambar 6.Hama Wereng

Wereng coklat(Nilaparvata lugens Stal) tergolong dalam ordo Homoptera famili Delphacidae. Seluruh tubuhnya berwarna coklat kekuningan sampai coklat tua, berbintik coklat gelap pada pertemuan sayap depannya. Panjang badan serangga jantan rata-rata 2-3 mm dan serangga betina 3-4 mm. Inang utama wereng coklat adalah tanaman padi.Telur wereng coklat berwarna putih, berbentuk seperti buah pisang, berukuran 1,30 mm x 0,33 mm dan biasanya diletakkan berkelompok di dalam jaringan pelepahdaun tanaman padi. Namun telur wereng coklat kadang-kadang dapat ditemukan pada helai daun. Telur menetas setelah 7-10 hari.Wereng coklat yang baru menetas sebelum menjadi dewasa melewati 5 tahap pertumbuhan nimfa (instar) yang dibedakan menurut ukuran tubuh dan bentuk bakal sayapnya. Serangga muda itu disebut nimfa.

Periode nimfa berkisar antara 12-15 hari. Hal penting yang perlu diperhatikan yaitu periode telur lebih dari separuh periode nimfa. Oleh karena telur wereng coklat diletakkan dalam jaringan pelepah daun, maka telur tidak dipengaruhi oleh aplikasi insektisida.

Menurut ukuran sayapnya wereng coklat dewasa terdiri dari dua bentuk, yaitu bentuk bersayap panjang (makroptera) dan bentuk bersayap pendek (Brakhiptera). Pemunculan kedua bentuk tersebut antara lain dipengaruhi oleh kepadatan populasi.

Bentuk makroptera dapat terbang sehingga merupakan bagian populasi yang berfungsi untuk menemukan tempat hidup baru. Perpindahan wereng coklat jarak jauh dapat terjadi dengan bantuan angin.

Beberapa hari setelah kawin wereng coklat betina mulai bertelur, puluhan butir telur sehari. Selama hidupnya, seekor wereng coklat betina di Laboratorium dapat menghasilkan telur sampai 1000 butir. Tetapi karena adanya pengaruh lingkungan, kemampuan bertelur di lapangan hanya mencapai 100-600 butir. Lama hidup makroptera migran kurang dari 5 hari dan masa hidup Brakhiptera betina berkisar antara 5-9 hari. Di daerah tropis, satu generasi wereng coklat berlangsung sekitar satu bulan.
Dinamika Populasi

Populasi wereng coklat yang berkembang di sawah dimulai oleh wereng coklat migran pada awal fase pembentukan anakan padi. Setelah menetap, wereng coklat berkembangbiak secara eksponential untuk satu atau dua generasi pada tanaman padi vase vegetatif, tergantung pada saat imigrasinya. Apabila imigrasi terjadi pada umur 2 atau 3 minggu setelah tanam, maka wereng coklat dapat berkembang biak

sebanyak dua generasi. Puncak populasi nimfa generasi pertama (G1) dan kedua (G2) berturut-turut muncul pada umur 5-6 minggu setelah tanam dan 10-11 minggu setelah tanam. Apabila imigrasi terjadi setelah tanaman berumur 5-6 minggu setelah tanam, puncak generasi nimfa hanya dijumpai satu kali, yaitu pada umur 9-10 minggu setelah tanam. Pada keadaan lain kepadatan populasi tertinggi terjadi pada fase pembungaan tanaman padi yaitu pada umur 9-11 minggu setelah tanam.Apabila kepadatan populasi mencapai 300-500 ekor per rumpun, tanaman akan segera mati kering (hopperburn). Kecenderungan umum dinamika populasi wereng coklat selama satu musim tanam Wereng coklat dewasa yang muncul pada saat tanaman berumur 7 minggu setelah

tanam umumnya berbentuk brakhiptera. Pada tanaman fase generatif wereng coklat yang muncul umumnya berbentuk makroptera yang kemudian pindah dari pertanaman tersebut. Akibatnya populasi wereng coklat pada tiap rumpun berkurang dengan cepat selama fase pemasakan tanaman padi.
Musuh Alami

Di daerah tropis, peranan musuh alami dalam mengendalikan populasi wereng coklat sangat besar. Diantaranya musuh alami tes adalah predator Lycosa sp yang setiap hari mampu memangsa 10-20 ekor wereng coklat dewasa atau 15-20 nimfa

sehingga dianggap sebagai predator utama wereng coklat. Mikrovelia dauglasi yang banyak terdapat pada permukaan air sawah, memangsa nimfa yang jatuh dari tanaman. Kepik Cyrtorhinus lividipennis merupakan predator utama yang memangsa telur dan nimfa. Selain itu terdapat beberapa parasit yaitu

antara lain kelompok Mymaridae ,Trichogrammatidae ,Dryinidae , dan Elenchidae.
Kerusakan

Serangga dewasa dan nimfa biasanya menetap di bagian pangkal tanaman padi dan mengisap pelepah daun. Wereng coklat menusukkan stiletnya ke dalam ikata pembuluh vaskuler tanaman inang dan mengisap cairan tanaman dari jaringan floem. Nimfa instar ke empat dan kelima menghisap cairan tanaman lebih banyak daripada instar pertama, kedua dan ketiga. Wereng coklat betina mengisap cairan lebih banyak daripada yang jantan. Kerusakan khas akibat isapan wereng coklat adalah kering bagaikan terbakar yang dikenal dengan Hopperburn. Gejala awal yang timbul adalah menguningnya helaian daun yang paling tua dan makin banyaknya jamur jelaga karena banyaknya embun madu yang dikeluarkan wereng coklat.Perubahan warna berlangsung terus meliputi semua bagian tanaman, dan akhirnya

seluruh tanaman mengering berwarna coklat.Hopperburn biasanya terjadi pada fase setelah pembentukan malai. Kehilangan hasil akibat serangan wereng coklat berkisar antara 10-90 persen, tergantung pada tingkat kerusakan tanaman yang terserang.
Penyakit yang ditularkan oleh Wereng Coklat

Wereng coklat dapat menularkan dua macam penyakit virus padi, yaitu Penyakit Kerdil Rumput (Grassy Stunt) dan Kerdil Hampa (Ragged Stunt). Penyakit virus ini terutama penyakit kerdil rumput, biasanya terjadi secara epidemik setelah eksploitasi wereng coklat.Tanaman padi yang terserang penyakit kerdil rumput pertumbuhannya sangat terhambat, sehingga menjadi kerdil dan mempunyai anakan banyak. Daunnya menjadi sempit, pendek, berwarna kuning pucak dan berbintik-bintik coklat tua.Serangan virus kerdil hampa menyababkan tanaman menjadi agak kerdil, daun hijau tua, terpilin, pendek, kaku, sobek-sobek, berpuru, anakan bercabang dan malainya tidak muncul serta hampa.Kedual penyakit virus diatas bersifat persisten. Penularan melalui telur (transovarial) atau keturunan wereng coklat tidak terjadi. Hubungan antara vektor (wereng coklat)

dan virus.
Pengendalian Hama Terpadu Wereng Coklat

Khusus dalam pengendalian hama wereng coklat dan penyakit-penyakit virus yang ditularkan, akan dilaksanakan empat cara pengendalian utama yaitu pengaturan pola tanam, penanaman varietas unggul tahan wereng (VUTW), eradikasi

dan sanitasi, dan penggunaan Insektisida secara bijaksana. Keempat cara terdapat harus dipadukan dalam suatu kesatuan program yang dilaksanakan secara mantap, menyeluruh dan berkesinambungan. Untuk melaksanakan sistem pengendalian terpadu tersebut, diperlukan berbagai langkah-langkah terkoordinasi antara berbagai instansi yang bersangkutan.
Pengaturan Pola Tanam

Cara-cara pengaturan pola tanam yang dapat diterapkan dalam pengendalian hama

wereng coklat dan penyakit virus yang ditularkannya adalah tanam serentak,

pergiliran tanaman, dan pergiliran varietas tahan.

Tanam Serempak

Dengan tanam serentak diharapkan tidak terjadi tumpang tindih generasi hama

sehingga populasi wereng coklat tidak mempunyai kemampuan untuk

berkembangbiak, terus menerus, memudahkan pengamatan dan apabila diperlukan

memudahkan penentuan saat aplikasi insektisida dan lebih menjamin efektivitas

aplikasi insektisida. Dengan demikian aplikasi insektisida tidak perlu diulang-ulang.

Tanam serentak dapat membantu memutuskan tersedianya makanan hama karena

adanya periode tidak ada tanaman (Bera) pada saat pengolahan tanah diantaranya

dia periode tanam, sehingga populasi wereng coklat dapat ditekan.

Tanam serentak hendaknya dilakukan pada areal yang cukup luas sekurangkurangnya

meliputi satu petak tersier atau wilkel dengan selisih waktu tanam paling lama dua minggu dan selisih waktu panen paling lama empat minggu. Untuk itu

varietas padi yang ditanam harus yang berumur relatif sama.

Cara ini perlu ditunjang dengan ketersediaan tenaga kerja yang cukup pada saat

pengolahan tanah dan panen, pengaturan air yang ketat dan dipatuhi oleh petani,

serta pengaturan kebijaksanaan harga pada saat panen serentak.

Pergiliran Tanaman

Hama wereng coklat tidak mempunyai inang lain selain padi. Penanaman monokultur

padi secara terus menerus menyebabkan tersedianya tanaman inang sepanjang

tahun yang memungkinkan berkembangnya populasi wereng coklat. Oleh karena itu,

usaha untuk memutus ketersediaan makanan mutlak diperlukan. Usaha tersebut

antara lain dengan cara menerapkan pergiliran tanaman, yaitu sekurang-kurangnya

satu kali menanam non padi atau dibiarkan bera selama satu sampai dua bulan

setiap tahun.

Pergiliran Varietas Tahan

Bagi daerah-daearah berpola tanam padi sepanjang tahun karena berbagai alasan

seperti drainase, sosial ekonomi, dan lain-lain, hendaknya dilakukan pergiliran

varietas tahan untuk menekan dan menghambat perkembangan biotipe baru.

Varietas yang digilir harus dari kelompok varietas yang memiliki gen tahan (tetua

tahan)

Cara ini perlu ditunjang dengan pengelolaan penyediaan benih yang terprogram

denga baik untuk menjamin ketepatan jenis, mutu, jumlah, waktu, tempat dan

harga, oleh karena itu, perusahaan-perusahaan benih, penangkar-penangkar benih

dan ikatan penangkar benih harus benar-benar memahami akan pentingnya

penyediaan benih dalam usaha pengendalian hama terpadu wereng coklat.
Penanaman Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW)

Di daerah tropis, penanaman varietas tahan mempunyai peranan yang penting

dalam pengendalian hama wereng coklat. Namun demikian, pengendalian wereng

dengan mengandalkan pada penanaman varietas tahan masih mengandung resiko,

karena ketahanan genetik varietas tahan dapat dipatahkan oleh adanya

perkembangan biotipe wereng coklat. Oleh karena itu wereng coklat memiliki potensi reproduksi yang tinggi, siklus hidup yang pendek dan sifat monophagus, maka akan

mendorong terjadinya biotipe yang lebih ganas (biotipe virulen) terhadap varietas

tahan monogenik yang ditanam secara monokultur terus menerus. Dengan

demikian, berarti daya tahan varietas tergantung sepenuhnya pada perkembangan

biotipe virulen.

Di Indonesia penanaman varietas tahan dilakukan secara meluas guna

menanggulangi masalah wereng coklat. Varietas tahan dapat digunakan tanpa

penambahan masukan oleh petani, serta dapat digabungkan dengan cara

pengendalian biologi misalnya pemanfaatan musuh-musuh alami (predator dan

parasitoid). Agar penggunaan varietas tahan dapat tahan lama dan efektif

penggunaannya perlu diintegrasikan dengan komponen pengendalian yang lain,

seperti pengaturan pola tanam, pergiliran varietas, sistem pengamatan yang intensif

dan penggunaan insektisida secara intensif.

Beberapa pendekatan praktis di lapangan yang disarankan agar penggunaan varietas

tahan dipertahankan selama mungkin adalah mencegah penanaman varietas tahan

monogenik secara monokultur terus menerus, menganjurkan pergiliran varietas

thana, dan menanam varietas-varietas yang telah menunjukkan ketahanan cukup

lama di lapang (misalnya PB36).

Pemilihan suatu varietas tahan yang dianjurkan tergantung terutama pada biotipe

wereng coklat yang menyerang, potensi produksi, mutu dan selera setempat

terhadap varietas yang dipilih, dengan tetap memperhatikan saran tersebut diatas.

Varietas-varietas yang dicantumkan di dalam tabel tersebut baru sebagian saja dari

varietas padi yang tersedia. Apabila di suatu daerah tersedia varietas lain yang

terbukti tahan terhadap wereng coklat biotipe setempat, maka varietas tersebut

dapat digunakan untuk melengkapi rekomendasi.
Eradikasi dan Sanitasi

Eradikasi dan sanitasi dilakukan dengan tujuan menghilangkan sumber serangan.Pada daerah serangan wereng coklat yang bukan merupakan daerah serangan virus kerdil rumput dan kerdil hampa, eradikasi dan atau sanitasi dilakukan pada tanaman padi yang puso (intensitas serangannya > = 85%). Pada daerah serangan berat,eradikasi hendaknya diikuti dengan pemberaan lahan selama satu sampai dua bulan atau penanaman tanaman non padi.Pada daerah serangan hama wereng coklat yang juga merupakan daerah serangan virus maka eradikasi dan sanitasi dilakukan pada tanaman terserang sebagai berikut:

a) sanitasi atau eradikasi selektif terhadap pertanaman padi pada stadia vegetatif yang terserang virus dengan intensitas <50% atau terhadap pertanaman padi pada stadia generatif yang terserang virus dengan intensitas =50% atau terhadap pertanaman padi stadia generatif yang terserang virus dengan intensitas >=85%
Penggunaan Insektisida

Pengendalian dengan insektisida dilakukan apabila cara pengendalian lain kurang efektif sehingga populasi hama verada diatas ambang ekonomi.Pemilihan jenis dan cara aplikasi insektisida hendaknya diusahakan sedemikian rupa sehingga usaha pengendalian menjadi efektif, efisien dan aman bagi lingkungan, khususnya terhadap predator hama wereng coklat. Hendaknya dihindarkan pemilihan insektisida yang menimbulkan resurgensi.

Insektisida tidak perlu digunakan pada varietas tahan kecuali kalau ketahanannya patah. Penggunaan pestisida pada varietas rentan hendaknya disesuaikan dengan hasil pengamatan. Aplikasi insektisida seyogyanya dilakukan pada saat populasi wereng coklat dalam stadium nimfa. Hendaknya dihindari aplikasi pestisida pada stadium telur karena telur-telur yang diletakkan pada jaringan tanaman tidak dapat terjangkau oleh insektisida sehingga tetap hidup dan dalam keadaan tekanan musuh alami yang rendah, populasi wereng coklat akan cepat meningkat kembali.Karena wereng coklat tinggal pada bagian pangkal tanaman padi, maka aplikasi insektisida dengan cara penyemprotan harus diarahkan pada bagian pangkal tanaman padi.Jenis insektisida yang dianjurkan dalam pengendalian wereng coklat adalah Applaud 10 WP serta insektisida yang berbahan aktif MIPC (seperti Mipcin 50 WP) dan BPMC (Hopcin 50 EC, Bassa 50 EC, Baycarb 500 EC, Dharmabas 50 EC dan Kiltop 50 EC) Applaud 10 WP adalah insektisida yang dapat mengganggu dan menghambat pertumbuhan hama wereng coklat sehingga gagal dalam proses ganti kulit dan mati 3-7 hari kemudian.

Telur wereng coklat bila terkena langsung insektisida ini tidak dapat menetas,sedang betina bunting yang terkena langsung akan menghasilkan telur yang juga

tidak menetas.Sebaliknya insektisida ini tidak mematikan musuh alami (predator) wereng coklat dan memiliki efek residu yang relatif lama (20-30 hari).Insektisida-insektisida lain yang tersebut diatas adalah dari golongan senyawa Carbamat yang efektif untuk mengendalikan serangga dewasa dan nimfa wereng coklat dan memiliki efek residu kurang lebih 14 hari.Aplikasi insektisida harus diusahakan pada waktu, cara dan dosis yang tepat.Apabila dijumpai populasi wereng coklat di persemaian atau pertanaman muda dengan populasi yang tinggi melebihi kebiasaan terutama di daerah pertanaman varietas rentan, maka dapat diramalkan akan terjadi peningkatan serangan werengcoklat bahkan dapat terjadi eksplosi. Keadaan tersebut bila meliputi areal yang luas dan hasil pengamatan menunjukkan perlu tindakan pengendalian maka perlu tindakan pengendalian secara serentak meliputi seluruh areal tersebut sebelum nimfa generasi pertama mencapai puncak populasinya. Pada keadaan tersebut insektisida yang sesuai digunakan adalah Applaud 10 WP yang mempunyai efek mematikan telur dan nimfa, residu yang lama dan tidak menimbulkan resurgensi.

Pengendalian wereng coklat menggunakan insektisida pada akhir stadium pembungaan, cukup dilakukan oleh petani secara perorangan. Pada saat itu, insektisida yang sesuai digunakan adalah yang dapat mematikan wereng coklat dengan cepat, yaitu insektisida carbamat seperti tersebut diatas. Dalam keadaan ini, wereng coklat tidak mempunyai kemungkinan timbul resurgensi karena tanaman padi telah memasuki stadium pemasakan.

Penyakit

Gambar 7.Penyakit Pada Padi
a) Bercak daun coklat

Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae).

Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.

Pengendalian: (1) merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan insektisida Rabcide 50 WP.
b) Blast

Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.

Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetative dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
c) Penyakit garis coklat daun

Penyebab: jamur Cercospora oryzae.

Gejala: menyerang daun dan pelepah.Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.

Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.
d) Busuk pelepah daun

Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.

Gejala: menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara ekonomi.

Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
e) Penyakit fusarium

Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.

Gejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah.

Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan

merkuri.
Gulma

Gulma yang tumbuh di antara tanaman padi adalah rumput-rumputan seperti umput teki (Cytorus rotundus) dan gulma berdaun lebar. Pengendalian dengan cara mekanis (mencabut, menyiangi), jarak tanam yang tepat dan penyemprotan herbisida Basagran 50 ML, Difenex 7G, DMA 6 dll.

PANEN

Gambar 8.Panen Padi
Ciri dan Umur Panen

Padi siap panen: 95 % butir sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air gabah 21-26 %, butir hijau rendah.
Cara Panen

Keringkan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong pangkal batang, simpan hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi. Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper binder, panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar sedangkan dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar.
Perkiraan Produksi

Dengan penanaman dan pemeliharaan yang intensif, diharapkan produksi mencapai 8-9 ton/ha. Saat ini hasil yang didapat hanya 5-6 ton/ha.
PASCAPANEN

a) Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (±60 jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting (± 16 jam orang untuk 1 hektar) dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok, waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang

untuk 1 hektar hasil panen.

b) Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %.

c) Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14 %. Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman.

d) Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (huller).
MANFAAT PADI

Gambar 9.Manfaat Padi

Bagian Yang Digunakan :
Selaput biji, biji, tangkai buah, dan. Selaput biji dijemur sampai kering.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Tidak napsu makan, gangguan pencernaan, beri-beri, kesemutan; Keguguran, demam, diare, gondongan, rematik, keseleo, bisul,; Radang payudara, radang kulit, rambut kotor, keringat berlebihan.

Kegunaan :
Selaput biji (Gu ya) berkhasiat untuk mengatasi:
– lambung dan limpa lemah,
– tidak nafsu makan, gangguan pencernaan, rasa penuh di dada dan
perut,
– beri-beri, serta
– tangan dan kaki rasa kesernutan, baal.

Tangkai buah (merang) berkhasiat untuk mengatasi:
– rambut kotor, dan
– keguguran.

Biji (beras) berkhasiat untuk mengatasi:
– demam,
– diare,
– gondongan,
– rematik, keselco,
– radang payudara, radang kulit, dan
– bisul.

Akar (No tao ken) berkhasiat untuk mengatasi:
– keringat berlebiban, berkeringat spontan, dan
– filariasis.

Cara Pemakaian :
Selaput biji (bekatul) sebanyak 10 – 15 g atau akar 15 – 20 g direbus, lalu airnya diminum. Untuk pemakaian luar, beras digiling halus bersama bahan lain, untuk pemakaian setempat. Merang dibakar,lalu tambahkan air. Campuran ini baik untuk mencuci rambut.

Contoh Pemakaian :
1. Diare
Segenggam beras merah disangrai sampai kuning, lalu digiling halus. Seduh dengan air panas sambil diaduk merata, sampai menjadi kuah kental. Ramuan yang disebut air tajin ini lalu ditambah sedikit garam. Setelah dingin siap untuk diminum. Lakukan 2 – 3 kali sehari.

2. Pencuci rambut
Sebanyak 2 ikat tangkai buah kering (merang) dimasukkan ke dalam panci atau bejana dari tanah liat. Kemudian merang dibakar sampai semuanya hangus menjadi abu. Tambahkan 1 liter air, lalu embunkan di udara terbuka semalaman. Ambil air yang bening untuk keramas. Selesai keramas, bilas dengan air perasan 1 buah jeruk purut yang telah masak dan diencerkan dengan 2 gelas air. Kemudian rambut dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Lakukan 3 kali dalam seminggu.

3. Gondongan :
Ambil sekepal nasi panas, urutkan pada bagian pipi yang bengkak.

4. Rematik :
Sediakan beras merah 1 sendok, lempuyang sepanjang 1/2 jari tangan, dan cabai rawit 3 buah. Semua bahan tersebut setelah dicuci bersih lalu ditumbuk sampai menjadi seperti bubur. Balurkan ke tempat yang sakit.

5. Mematangkan bisul : Untuk bisul yang besar dan keras dikompres dengan bubur nasi.

6. Beri-beri :
Siapkan bekatul beras merah sebanyak 3 sendok makan lalu seduh dengan 100 cc susu sapi sambil diaduk merata. Minum selagi hangat. Lakukan 2 kali sehari.

Komposisi :
Sifat Kimia dan Efek Farmakologis : Akar bersifat hangat dan manis. Selaput biji (kulit ari) bersifat manis, netral, serta masuk meridian limpa dan lambung.

Kandungan Kimia : Biji mengandung karbohidrat, dextrin, arabanoxylan, xylan, phytin, glutelin, enzim (phytase, lypase, diastase), dan vitamin B
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid Rauf,Syamsuddin. T,Sri Rahayu Sihombing. 2000.Penanan Pupuk NPK Pada Tanaman Padi.Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat.Irian Jaya

Anonimous.2009.Padi dan Manfaatnya.http:\\www.Rosehan Anwar Blog.htm

Diakses pada 20 Mei 2010

Rahayu,Teguh.Budidaya Tanaman Padi Dengan Teknologi MiG-6 PLUS BPP.

Salim,Muhammad. 2007. Peranan Saluran Irigasi Bendung Pesayangan Untuk Mencukupi Kebutuhan Tanaman Padi Petak Sawah di Kecamatan Talang Kabupaten Tegal.Universitas Negeri Semarang.Semarang.

6 thoughts on “budidaya tanaman padi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s