Membaca Gerakan Mahasiswa di Indonesia

Membaca Gerakan Mahasiswa di Indonesia

Oleh : Anam Rifai

Dalam kesejarahan bangsa indonesia, mahasiswa indonesia

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

menjadi salah satu elemen penting dalam melakukan peeubahan sosial. semangat tang dan sikap revolusionernya mampu menorehkan keberhasilan dalam usaha mengganti rezim pemerintahan yang dinilai otoriter dan tidak mampu membwa bangsa menuju kearah yang lebih baik. Di indonesia sendiri gerakan mahasiswa setidaknya sudah dimulai pada zaman kolonialisme belanda yang ditandai berdirinya Boedi Oetomo (1908) yang diprakarsai salah satunya oleh Sutomo denga mengusung misi “Rakyat Berdaulat”. Kemudian pada tajun 1982 muncul sumpah pemuda yang mengusung i’tikad bersama, “satoe tanah air, satoe bangsa, dan satoe bahasa.”

Gerakan mahasiswa Indonesia tidak terhenti sampai di sini, pada tahun 1942 mereka memperkuat perlawanannya melalui perjuangan diplomasi ke luar negeri untuk menuju kemerdekaan Indonesia. Banyak sekali tokioh perjuangan Indonesia semasa kolonial saat beajar di Belanda membuat perhimpunan Pelahar Indonesia yang kemudian kelak menjadi embrio berbagai macam lahirnya partai politik di tanah air. Setelah Indonesia berhasil merdeka (17/08/1945), gerakan mereka terkonsentrasi dalam proses pengawalan kemerdekaan. sehingga saat itu tidak sedikit mahasiswa yang terjun dalam dunia militer.

Tahun 1955 menjadi tahun yang sangat berat bagi kondisi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasswa yag seharusnya tetap pada gerakan moral dan intelektual, akhirnya terseret dalam arus politik praktis. Hal ini berafilasinya HMI ke Partai Masyumi, GMNI ke PNI, CGMI ke PKI, PKMRI ke Parkindo dan lain sebagainya. Setelah  sepuluh tahun gerakan mahasiswaterdiam dalam kekuasaan Soekarno, dengan munculnya tragedi ’65, gerakan mahasiswa menemukan momentum yang baik dalam mengembalikan jati dirinya sebagai gerakan moral dan intelektual. Disaat ekonomi bangsa terpuruk, kemiskinan dii mana-mana, Mahasiswa menjadi pelopor untuk menuntut adanya perbaikan kondisi bangsa. Saat itu lahir lah sebuah tuntutan mahasiswa kepada Rezim Soekarno yang sangat terkenal dinamakan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Karena tidak bisa memperbaiki kondisi bangsa, dengan desakan yang masif dari mahasiswa, maka Soekarno pun tumbang dari kekusasaannya pada tahun 1966.

Setelah tumbang Soekarno, banyak mahasiswa yang terjun dalam kubangan politik praktis Orde Baru Ini menjadikan mereka tidak lagi kritis dengan kebijakan pengusa Pemerintahan Orde Baru ternyata juga mengalami kebobrokan tang sangat akut, diantaranya adalah semakin menumpuknya hutang luar negeri, korupsi yang merajalela, bermaca pelanggaran hak asasi manusia dan juga yang lainnya. Hal ini menyebabkan iklim demokrasi pada saat itu bekuasanya Orde Bari sangat tidak sehat. Pemegang otoritas kebenaran hanya pada tangan pemerintah Orde Baru semata.

Dengan kondisi diatas, maka mahasiswa melakukan gerakan turun kejalan menuntut adanya perubahan yang lebih baik. Maka kemudian muncul peristiwa “Malari”(1974) yag dilakukan mahasiswa karena pemerintah dinilai tidak berorientasi kepada kepentingan rakyat dalam melakukan pembangunan. Tia tahun setelah itu, 1977, muncul “Ikrar Mahasiswa Indonesia” yang mana mahasiswa mendesak MPR RI untuk meminta pertanggung jawaban    Presiden RI Soeharto atas pelanggarannya terhadap UUD 1946 dan menuntut dikembalikannya ABRI pada rakyat. Ikrar ini disikapi pemerintah dengan meredam perangkat instrumen dan ruang yang memungkinkan mahasiswa bersikap kritis, yaitu dengan menerapkan NKK/BKK di kampus

Kondisi bangsa dibawah Orde Baru yang terus menerus mengalami kemerosotan dalam segala lini kehidupan mengalami klimaks pada tahu 1997. Gerakan mahasiswa secara serempak muncul dimana-mana dan segera saja menjadi gerakan sosial yang mengguritka. Mereka menuntut adanya perubahan. Gerakan mahasiswa inipun berhasil memaksa Soeharto untuk mengakhiri kekuasaannya selama kurang lebih 32 tahun.

Gerakan Mahasiswa dalam Konteks Kekiniaan

            Saat ini Indonesia telah memasuki era reformasi. Sebuah era yang ditandai dengan proses keterbukaan (non-otoriter), demokrasi, dan kebebasan bersuara serta berpendapat. Lahirnya era ini tidak lepas dari kondisi bangsa yang selama 32 tahun dipimpin oleh rezim Soeharto dengan segala kediktatorannya. Diktator disini dapat diartikan siapa saja yang berpendapat, mengkritik dan menentang pemerintah pasti akan dibunuh. Akhirnya pemerintah cenderung korup, kejam dan tidak demokratis karena tidak ada kontrol dari masyarakat. Akibatnya kondisi ekonomi masyarakat semakin memburuk. Angka kemiskinan meningkat seiring adanya inflasi yang tajam serta penguasaan ekonomi yang hanya dikuasai segelintir kroni Soeharto. Puncaknya kemudian krisis ekonomi bahkan krisis multidimensi terjadi pada tahun 1998 yang dinamakan krisis moneter atau krismon seperti yang sudah disinggung di atas.

Cita-cita lahirnya era reformasi adalah perbaikan kondisi bangsa yang meliputi aspek perbaikan ekonomi yakni pemertaan pendapatan dan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan demokratisasi, serta peningkatan akunbilitas serta trasnparasi pemerintahan dan tentu saja kebebasan untuk bersuara dan menyampaikan pendapat yang sangat tabu pada zaman Soeharto. Di samping itu, cita-cita yang lain adalah pemisahan fungsi pertahanan keamanan di tubuh Tentara Republik Indonesia (TNI).

Meski sudah berjalan 13 tahun, namun hingga saat ini cita-cita reformasi tersebut masih belum tercapai. Hanya pemisahan fungsi politik dan fungsi pertahanan bersifat di tubuh Tentara Republik Indonesia yang sudah berhasil serta kebebasan bersuara dan pendapat  yang sudah di atur dalam konstitusi maupun UU. Tengok saja korupsi, melanda dimana-mana. Angka kemiskinan masih tinggi yang mencapai 31 juta jiwa. Kalau mengacu pada asumsi patokan minimal pendapat masyarakat miskin dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), maka angka kemiskinan di Indonesia lebih besar lagi mencapai 62 juta jiwa. Di sektor pendidikan tinggi, pemberlakukan sistem badan hukum pendidikan yang kemudian sudah di anulir oleh Mahkamah Konstitusi menandai era Liberalisasi pendidikan di Indonesia. Akibatnya biaya kuliah semakin melambung tinggi melampui kekuatan finansial masyarakat menengah kebawah. Kondisi ini jelas membuat jaminan untuk mengeyam pendidikan setinggih-tinggihnya dan sebaik-baiknya bagi seluruh masyarakat akan sulit tercapai. Dan masih banyak problem-problem Negara yang lain.

Kembali ke maslah gerakan mahasiswa, adalah Hariman Siregar salah satu seorang tokoh Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), menyatakan bahwa gerakan mahasiswa merupakan pilar ke-5 demokrasi setelah, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan media massa (institusi pres sebagai pencipta opini publik). Salah satu alasan yang diajukan adalah realitas bahwa mahasiswa di dunia ke tiga (khususnya di Indonesia) yang selalu tampil menjadi benteng terakhir demokrasi. Ketiga otoritarianisme negara memuncak, dan lembaga-lembaga demokrasi di atas tak lagi efektif memainkan perannya, maka mahasiswa mampu tampil sebagai kekuatan pendobrakan yang menyediakan dirinya menjadi bumper perubahan. Apa yang terjadi pada angkatan ’66, 74, dan ’98 kemarin adalah bukti tak terbantahkan.

Artinya mahasiswa sebenarnya dapat menjadi lokomotif perubahan bangsa. Ketika para politisi kita sibuk untuk mengurusi dirinya sendiri, maka mahasiswa harus mampu membangun gerakan ekstra parlementer yang efektif untuk mengimbangi kekuatan pemerintahan. Dalam konteks ini, mahasiswa mempunyai peran untuk memastikan kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah telah bervisi kerakyatan. Jika tidak maka mereka harus bersikap.

Gerakan mahasiswa harus mampu “membalas” kesalahannya pada tahun 1998. Banyak kalangan menyebutkan, keberhasilan menjatuhkan Soeharto ternyata tidak dibarengi dengan persiapan penataan infrastruktur kepemimpinan nasional serta budaya politik secara ideal. Akibatnya reformasi 1998 hanya menghasilkan pergantian pemimpinan semata tanpa ada perubahan struktur dan kultur politik yang demokratis. Gerakan mahasiswa pasca tumbangnya kekuasaan Orde Baru yang diharapkan mampu menjadi lokomotif perubahan, nyatanya semakin hari semakin tidak mempunyai kekuatan untuk menjawab tatangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s