nabilussalam

Just another WordPress.com site

PERANAN NON LEX Scripta

  1. A.    Pendahuluan

Hukum merupakan sebuah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan  dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih.

Istilah hukum berasal dari Bahasa Arab : HUK’MUN yang artinya menetapkan. Arti hukum dalam bahasa Arab ini mirip dengan pengertian hukum yang dikembangkan oleh kajian dalam teori hukum, ilmu hukum dan sebagian studi-studi sosial mengenai hukum. Hukum sendiri menetapkan tingkah laku mana yang dibolehkan, dilarang atau disuruh untuk dilakukan. Hukum juga dinilai sebagai norma yang mengkualifikasi peristiwa atau kenyataan tertentu menjadi peristiwa atau kenyataan yang memiliki akibat hukum.Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan atau tindakan militer. filsuf Aristotle menyatakan bahwa “Sebuah supremasi hukum akan jauh lebih baik dari pada dibandingkan dengan peraturan tirani yang merajalela.

Apabila hukum yang berlaku di dalam masyarakat  tidak sesuai dengan kebutuhan- kebutuhan serta kepentingan-kepentingannya, maka ia akan mencari jalan keluar serta mencoba untuk menyimpang dari aturan-aturan yang ada. Segala bentuk tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu serta merugikan dalam kehidupan bermasyarakat tersebut diartikan oleh masyarakat sebagai sikap yang berperilaku jahat.

Hukum itu dapat dibagi dalam berbagai bidang, antara lain hukum pidana/hukum publik, hukum perdata/hukum pribadi, hukum acara,hukum tata negarahukum administrasi negara/hukum tata usaha negara, hukum internasionalhukum adathukum islamhukum agrariahukum bisnis, dan hukum lingkungan.

Di Indonesia merupakan negara yang menganut sistem hukum campuran dengan sistem hukum utama yaitu sistem hukum Eropa Kontinental. Selain sistem hukum Eropa Kontinental, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat dan sistem hukum agama, khususnya hukum (syariah) Islam.

Menurut bentuknya hukum dibagi menjadi dua bagian, yakni hukum tertulis dan hukum tidak  tertulis atau lex non scripta. Yang dimaksud dengan Hukum Tertulis adalah hukum yang dituliskan atau dicantumkan dalam perundang-undangan. Contoh : hukum pidana dituliskan pada KUHPidana, hukum perdata dicantumkan pada KUHPerdata.

Sedangkan yang di maksud dengan “Lex Non Scripta” disini adalah hukum tidak tertulis. Kata lex non scripta sendiri berasal dari  bahasa latin lex berarti hukum, non sama dengan tidak sedangkan scripta adalah tertulis. Yang dimaksud dengan hukum tidak tertulis adalah hukum yang tidak dituliskan atau tidak dicantumkan dalam perundang-undangan. Contoh : hukum adat tidak dituliskan atau tidak dicantumkan pada perundang-undangan tetapi dipatuhi oleh daerah tertentu.

Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti JepangIndia, dan Tiongkok. Hukum adat adalah hukum asli bangsa Indonesia. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukumtidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Selain itu dikenal pula masyarakat hukum adat yaitu sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan. Menurut Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven, hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku positif yang disatu pihak mempunyai sanksi (hukum) dan dipihak lain dalam keadaan tidak dikodifikasi (adat). Tingkah laku positif memiliki makna hukum yang dinyatakan berlaku disini dan sekarang. Sedangkan sanksi yang dimaksud adalah reaksi (konsekuensi) dari pihak lain atas suatu pelanggaran terhadap norma (hukum). 

  1. B.     Pembahasan

1. Peranan Lex Non Scripta Dalam Prespektif Hukum Adat

Peranan lex non scripta dalam prespektif hukum adat dalam sebuah masyarakat adalah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam suatu permasalahan.

  1. Hukum adat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan-bahan bagi Pembangunan Hukum Nasional, yang menuju Kepada Unifikasi pembuatan peraturan perundangan dengan tidak mengabaikan timbul/tumbuhnya dan berkembangnya hukum kebiasaan dan pengadilan dalam pembinaan hukum.
  2.  Pengambilan bahan-bahan dari hukum adatadalam penyusunan Hukum Nasional pada dasarnya berarti:

- Penggunaan konsepsi-konsepsi dan azas-azas hukum dari hukum adat untuk dirumuskan dalam norma-norma hukum yang memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini dan mendatang dalam rangka membangun masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar.

- Penggunaan lembaga-lembaga hukum adat yang dimodernisir dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman tanpa menghilangkan ciri dan sifat-sifat kepribadian Indonesianya.

- Memasukkan konsep-konsep dan azas-azas hukum adat ke dalam lembaga-lembaga hukum dari hukum asing yang dipergunakan untuk memperkaya dan memperkembangkan Hukum Nasional, agar tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

c. Di dalam pembinaan hukum harta kekayaan nasional, hukum adat merupakan salah satu unsur sedangkan di dalam pembinaan hukum kekeluargaan dan hukum kewarisan nasional merupakan intinya.

d.   Dengan terbentuknya hukum nasional yang mengandung unsur-unsur hukum adat, maka kedudukan dan peranan hukum adat itu telah terserap di dalam hukum nasional.

2. Prespektif Lex Non Scripta Kaidah Sosial dalam Kehidupan Masyarakat

     Dalam prespektif lex non scripta kaidah sosial di dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu aturan atau ketentuan yang menjadi pedoman masyarakat tersebut dalam melaksanakan setiap kegiatannya. Diharapkan dengan adanya kaidah sosial ini kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan tertib. Kaidah sosial menjadi aturan hukum lain disamping hukum nasional yang berupa  hukum perdata, hukum pidana, ataupun aturan-aturan hukum yang lainnya, dengan harapan dapat melengkapi ataupun menjadi hukum yang lebih jelas bagi kalangan tertentu.

3. Prespektif Lex Non Scripta Pada Aturan Keluarga

umumnya aturan keluarga tidak tertulis. Aturan keluarga disepakati oleh semua anggota keluarga. Anggota keluarga wajib menaati. Setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota lainnya. Kemungkinan di rumah ada pembantu dan kerabat keluarga.

Aturan main dalam keluarga bisa menjadi solusi jitu untuk mengatasi masalah antara orangtua dan anak. Hal itu terkait dengan pengelolaan tingkah laku anak di rumah, dan fungsi/peran orangtua. Seperti jalan raya yang ada aturan dan rambu-rambu lalu lintas. Jika melanggar akan ditindak. Namun agar aturan itu berjalan perlu petugas yang melaksanakan aturan dengan jelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Rujukan

Edi. 2012. Aturan Main Dalam Keluarga. http://radiosmartfm.com/indonesia-strong-from-home/6500-perlunya-aturan-main-dalam-keluarga.html (di akses pada 16 agustus 2012)

From Old English lagu “something laid down or fixed”; legal comes from Latin legalis, from lex “law”, “statute” (Law, Online Etymology Dictionary; Legal, Merriam-Webster’s Online Dictionary)

http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Indonesia (di akses pada 16 agustus 2012)

http://wisnu.blog.uns.ac.id/2009/07/28/kedudukan-hukum-adat-dalam-hukum-nasional/ (di akses pada 16 agustus 2012)

http://pertelontanahmerah.blogspot.com/2011/02/hukum-tertulis-dan-tidak-tertulis.html (di akses pada 16 agustus 2012)

http://ml.scribd.com/doc/24972173/Kaidah-Social-Dan-Hukum (di akses pada 16 agustus 2012)

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA. Erlangga. Jakarta

Robertson, Crimes against humanity, 90; see “analytical jurisprudence” for extensive debate on what law is; in The Concept of Law Hart argued law is a “system of rules” (Campbell, The Contribution of Legal Studies, 184); Austin said law was “the command of a sovereign, backed by the threat of a sanction” (Bix, John Austin);

Dworkin describes law as an “interpretive concept” to achieve justice (Dworkin,Law’s Empire, 410); and Raz argues law is an “authority” to mediate people’s interests (Raz, The Authority of Law, 3–36).

Tinggalkan komentar »

Syair Mengenai Tuntunan Akhlak dan Budi

‎“`Syair Mengenai Tuntunan Akhlak dan Budi“`
Oleh : Drs.H.Bambang Sucipto Bin Jahjo Wasito

Teringat beberapa puluh tahun yang lalu ketika masih sekolah di Madrasah Diniyah. Ada syair mengenai tuntunan bagi anak-anak mengenai adab dan akhlak yang harus selalu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun syair-syair ini mengandung kata-kata yang sederhana, namun syarat akan makna. Berikut ini adalah syair tersebut (dalam bahasa Arab dan Jawa)

1-Sholaatullahi ma lahat kawakib
Alaa ahmad khoiri man rokiba najaib.

2-Iki syiir kanggo bocah lanang wadon
Nebihaken tingkah laku ingkang awon

3-Sarto nerangake budi kang prayogo
Kanggo dalan podho mlebu ing suwargo

4-Bocah iku wiwit umur pitung tahun
Kudu ajar toto keben ora getun

5-Kudu tresno ring ibune kang ngrumati
Awit cilik marang bopo sing gemati

6-Ibu bopo rewangono lamun repot
Ojo koyo wong gemagus ingkang wangkot

7-Lamun ibu bopo prentah inggal tandang
Ojo bantah ojo sengul ojo mampang

8-Andhab asor ing wong tuwo najan liyo
Tetepono ojo koyo rojokoyo

9-Gunem alus alon lirih ingkang terang
Ojo kasar ojo misuh koyo bujang

10-Yen wong tuwo lenggah ngisor siro ojo
Pisan lungguh duwur koyo jamak jujo

11-Yen wong tuwo sare ojo geger guyon
Lamun siro nuju moco ingkang alon

12-Lamun siro liwat ing ngarepe
Kudu nyuwun amit sarto depe depe

13-Lamun ibu bopo duko becik meneng
Ojo melu padu ugo ojo nggreneng

Bab Ambagi Wektu

14-Dadi bocah kudu ajar bagi Zaman
Ojo pijer dolan nganti lali mangan

15-Len wayahe sholat ojo nunggu prentah
Inggal tandang cekat ceket ojo wegah

16-Wayah ngaji wayah sekolah sinau
Kabeh mau gathekake klawan tuhu

17-Kenthong subuh inggal tangi nuli adus
Wudhu nuli sholat khusyuk ingkang bagus

18-Rampung sholat tandang gawe opo bae
Kang prayoga koyo nyaponi omahe

19-Lamun ora iyo moco moco Qur’an
Najan namung sitik dadio wiridan

20-Budal ngaji awan bengi podho wae
Toto kromo lan adabe podo bae

Bab Ing pamulangan

21-Lamun arep budal menyang pamulangan
Toto toto ingkang rajin kang resikan

22-Nuli pamit ibu bopo kanthi salam
Jawab ibu bopo alaikum salam

23-Disangoni akeh tithik kudu trimo
Supoyo ing tembe dadi wong utomo

24-Ono pamulangan kudu tansah gathi
Nompo ilmu pamulangan ilmu kang wigati

25-Ono kelas ojo ngantuk ojo guyon
Wayah ngaso keno ojo nemen guyon

26-Karo konco ojo bengis ojo judas
Mundak diwadani konco ora waras

Mulih saking Pamulangan

27-Bubar saking pamulang inggal mulih
Ojo mumpar mampir dolan selak ngelih

28-Tekan ngomah nuli salin sandangane
Kudu pernah rajin rapi aturane

Ono ing ngomah

28-Karo dulur konco ingkang rukun bagus
Ojo koyo kucing belang rebut tikus

29-Dadi tuwo kudu weruh ing sepuhe
Dadi enom kudu rumongso bocahe

30-Lamun bopo alim pangkat sugih joyo
Ojo siro kumalungkung ing wong liyo

31-Pangkat gampang minggat sugih gampang mulih
Alam iku gampang owah molah malih

32-Arikolo siro madhep ing wong liyo
Kudu ajer ojo mrengut koyo boyo

Karo Guru

33-Marang guru kudu tuhu lan ngabekti
Sekabehe printah bagus dituruti

34-Piwulange ngertenono kanthi ngudi
Nasihate tetepono ingkang merdi

35-Larangane tebihono kanthi yekti
Supoyo ing tembe sira dadi mukti

Ono Tamu

36-Tatkalane ibu bopo tompo tamu
Ojo biyayakan tingkah polahamu.

37-Ojo nyuwun duwit wedhang lan panganan
Rewel beko koyo ora tau mangan

38-Lamun banget butuh kudu sabar dhisik
Nganti tamu mundur dadi siro becik

39-Arikolo podho ubaran tamune
Ojo nuli rerebutan turahane

40-Koyo keting rerebutan najis tibo
Gawe malu lamun deleng wong jobo

41-Kejobo yen bopo dhawuh he anakku
Iku turahe wong ngalim kiyai-ku

42-Bagi sakdulurmu keben kabeh
Ketularan Alim, sugih bondho akeh

43-Niat iro nuprih berkahe wong mulyo
Ora niat rebut turahe wong liyo

Sikap lan lagak

44-Anak islam iku mongso kudu awas.
Ojo nganthi leno mangko mundak tiwas

45-Luru ngelmu iku perlu nanging budi
Adab islam kudu tansah dipersudi

46-Akeh bocah pinter nanging ora bagus
Budhi pekertine sebab do gembagus

47-Ring wong tuwo gak ngerteni gak ngajeni
Sajak pinter dewe longko kang madhani

48-Jare iku caranipun sak puniko
Ora ngono dudu intelek merdeko

49-Ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng
Jare ora kebangsaan ingkang majeng

50-Sawang iku pengeran Diponegoro
Imam bonjol Teuku Umar kang kuncoro

51-Kabeh podho belo bongso lang negoro
Podho ngagem destar pantes yen perwiro

52-Nggujeng serban sasat nggujeng Imam bonjol
Sak kancane he anakku ojo tolol

53-Timbang gundhul opo ora luwih bagus
Ngagem tutup sirah koyo raden bagus

54-Kolo-kolo pamer rambut sak karepmu
Nanging kudu eling papan sesrawungmu

55-kumpul mudho bedo karo pul Kyai-ne
Nuju sholat gak podho mlancong nujune

56-Ora nuli mlancong gudhul sholat gundhul
Sowan moro tuwo gundhul nguyuh gundhul

Cita-cita luhur.

57-Anak Islam kudu cita-cita luhur
Keben ndonya akherate biso makmur

58-Cukup ngelmu ngumume lan agamane
Cukup donya kanthi bekti pangerane

59-Biso mimpin sakdulure lan bangsane
Tumuju ring raharjo lan kamulyane

60-Iku kabeh ora gampang laksanane
Lamun ora kawit cilik ta-citane

61-Cita-cita kudu dikanthi gumregut
Ngudhi ngelmu sarto pakerti kang patut

62-Kito iki bakal tininggal wong tuwo
Ora keno ora kito mesthi nuwo.

63-Lamun kito podho ketekan sejane
Ora liwat siro kabeh pemimpine

64-Negaramu butuh menteri butuh mufti
Butuh kadi, patih, setten lan bupati

65-Butuh dokter, butuh Mister ingkang pinter
Ngelmu agama kang nuntun laku bener

66-Butuh guru lan Kyai kang linangkung
Melu ngatur negarane ora ketung

67-Iku kabeh sopo maneh kang ngayai
Lamun ora anak kito kang nyaguhi

68-Kejobo yen siro kabeh ridho mbuntut
Selawase angon wedhus nyekel pecut

69-Siro ridho gocek cikar selamine
Kapir iro mentul-mentul lungguhane.

70-Ora nyelo angon wedhus numpak cikar
Asal cita-cita ngelmu iso nenggar.

71-Nabi kito kolo timur pangon mendho
Ing tembene pangon jalmo kang sembodo

72-Abu bakar sidik iku bakul masar
Nanging noto masyarakat ora sasar

73-Ali abu tolib bakul kayu bakar
Nanging tangkas yen dadi paglima besar

74-Wahid Hasyim santri pondok gak sekolah
Dadi mentri karo liyane gak kalah

75-Kabeh mau gumantung ing sejo luhur
Kanthi ngudi ngelmu sarto laku jujur

77-Tekan kene pungkasane Syi’ir iki
Larikane wolu limo kurang siji

78-Mugo-mugo sejo kitho sinembadan
Dening Allah ingkang nurunake udan

79-Pinaringan taufiq sarto hidayah
Donya akhirate sehat lan ngafiyah

80-Amin-amin-amin-amin-amin-amin
Falhamdu lil-ilaahi robil alamiin

2 Komentar »

Syi’ir وازهدوا ذا فقد علاقة قلبكا بالمال لافقد له تك اعقلا

A.  Pendahuluan

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, segala puji hanyalah milik  Allah semata. Dial ah Al-Mun’im, Dzat yang telah, akan dan senantiasa  menganugerahkan kenikmatan iman dan islam kepada kita sebagai kenikmatan yang paling berharga, yang tidak bisa ditukar dengan zamrud khatulistiwa. Hanya dengan ma’unah hidayah Allah (Fabini’matin minallaahi linta lahum) semata kita ditakdirkan untuk mencicipi apa yang disebut sebagai halaawatul iman atau manisnya iman. Shalawat dan salam semoga senantiasa kita kumandangkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ,manusia super power terdepan di dalam akhlak dan budi pekertinya, seorang manusia luar biasa yang pernah terlahirkan di bumi ini, nothing else. Dengan risalah berupa Al-Qur’an dan Hadits yang dibawa Nabi Muhammad kita dapat terselamatkan dari jalan kesesatan menuju jalan yang lurus,  jalan yang diridloi Allah, raadliyatan mardliyyah.

Mengawali paper ini, marilah kita tengok ayat yang tertera di dalam Al-Qur’an sebagai berikut

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

[186] Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang Termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa manusia senantiasa diliputi oleh kecintaannya kepada dunia, baik itu wanita, harta, keluarga, maupun tahta. Cinta yang berlebihan yang dilandasi dengan syahwat atau hawa nafsu tanpa dilandasi dengan semangat cinta kepada Allah melalui wasilah cinta kepada makhluk-makhluknya akan membahayakan manusia itu sendiri. Karena itulah kecintaan kepada semua makhluk Allah harus dilandasi dengan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah tidak dapat dikalahkan atau dinomorduakan. Kecintaan kita kepada Allah haruslah ditempatkan di nomor wahid.

Karena itu, di dalam ilmu tashawwuf manusia diperintahkan untuk berzuhud, mencintai Allah di atas segalanya.

Salah satu pesan yang teramat mendalam mengengenai anjuran untuk berzuhud ada di dalam sebuah sya’ir yang termaktub di dalam kitab Kifayatul Atqiya’ sebagai berikut:

وازهدوا ذا فقد علاقة قلبكا  بالمال لافقد له تك اعقلا

 Para pembaca yang budiman, untuk melengkapi ulasan syiir di atas, selanjutnya di dalam makalah ini perlu diuraikan tentang definisi zuhud baik secara etimologi maupun terminology yang dinukil dari berbagai pendapat para ulama mutashawwifiin (ahli tashawwuf), dan dijelaskan pula dalil naqli yang berkenaan dengan perintah zuhud dan fadlilah zuhud.

B.       Pembahasan

Definisi Zuhud

Secara etimologi, di dalam kitab Kifayatul Athqiya yang dikarang oleh Sayid Abi Bakar Al-Ma’ruf bi As-Sayid Bakar Al-Makkiy disebutkan bahwa الزهد خلاف الرغبة   yang berarti zuhud adalah lawan dari cinta.

Lebih detail di dalam kitab itu dituliskan  bahwa

الى ما هو خير منه انصرف الرغبة عن الشئ وحقيقته

yang berarti bahwa pada hakikatnya zuhud adalah menanggalkan kesenangan   terhadap sesuatu.

 Sedangkan secara terminologi dan pandangan para Ulama terdapat beberapa pendapat yang saling mendukung satu sama lainnya. Menurut Imam Ahmad bahwasanya zuhud adalah menyegarkan psikis dan fisik (jasmani). Sementara cinta terhadap dunia akan memperpannjang derita dan kesusahan dan tidaklah orang yang meremehkan ketaata

Read the rest of this entry »

Tinggalkan komentar »

STRUKTUR TANAH

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH
STRUKTUR TANAH

NAMA : Achmad Nabilus Salam
NIM : 105040113111020
KEL : SENIN JAM 13.00

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Struktur tanah adalah salah satu sifat dasar tanah yang sangat mempengaruhi sifat tanah yang lain serta besar pengaruhnya terhadap kemampuan tanah sebagai media pertanaman. Struktur digunakan untuk mendeskripsikan agregasi secara umum atau susunan bagian padat tanah.
Suatu penampang tanah dapat didomonasi oleh suatu corak tanah tertentu. Kadang-kadang berbagai corak agregasi akan dijumpai ketika meneliti horizon demi horizon suatu profil tanah.
Bentuk-bentuk struktur dalam keadaan tidak terganggu terjadi dari dua keadaad=n non structural, yaitu: zarah lepas dan masiv. Pasir merupakan contoh pertama bahan organic mengikat zarah lepas menjadi keolompok-kelompok atau agregat-agregat
1.2 TUJUAN
* Mengetahui bentuk struktur tanah
* Mengetahui faktor yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh struktur tanah Read the rest of this entry »

7 Komentar »

Halalnya Bernyanyi dan Memukul Terbang


Halalnya Bernyanyi dan Memukul Terbang[1]

  1. Pendahuluan

Musik sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Hampir tidak ada ruang steril dari musik. Bahkan dalam upaya membudayakan shalawat Nabi, akhir-akhir ini musik Indonesia diwarnai dengan maraknya alunan cinta Rasul. Selain itu sering pula kita dengarkan lantunan musik religi yang tidak kalah ikut meramaikan pasar musik Indonesia. Termasuk di dalamnya kesenian hadrah ataupun rebana yang mulai merambah pasaran luas. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan, ada apa dengan musik? Bagaimana hukumnya menyanyi dan memainkan alat musik?

Salah satu karakter manusia adalah senang terhadap keindahan (seni). Yaitu terpesona alam yang sejuk dipandang mata (seni rupa) serta alunan alam yang asyik dinikmati telinga (seni suara). Begitu pula dengan nyanyian (nasyid), sebab menyanyi itu merupakan fitrah manusia yang senang dengan keindahan. Lagu dilantunkan untuk menghiasi hati manusia agar terhibur dengan menikmati serta menghayati tiap bait syair yang dilantunkan dengan suara merdu. Yang pada dasarnya untaian lantunan lagu tersebut diharapkan bisa menggerakkan hari seseorang untuk merasakan keindahan ciptaan Allah SWT, sekaligus mengakui kekuasaan-Nya.

  1. Dasar yang Membolehkan

Dalam Ihya’ Ulum Al-Din,  imam Al-Ghozali mengatakan[2]:

الخامس: السامع فى أوقات السرور تأكيدا للسرور وتهييجا له وهو مباح إن كان ذلك السرور مباحا كاغناء فى أيام العيد وفى العرس وفى وقت قدوم الغائب وفى وقت الوليمة والعقيقه وعند ولادة المولود وعند ختانه وعند حفظه القرآن العزيز وكل ذلك مباح لأجل إظهار السرور به … ويدل على هذا من النقل إنشاء النساء على السطوح بالدف والألحان عند قدوم رسول الله صلى الله عليه وسلم :

طلع البدر علينا ± من ثنية الوداع ± وجب الشكر علينا ± ما دعا لله داع

“Yang kelima adalah menyanyi pada saat-saat yang menggembirakan untuk menampakkan rasa bahagia serta suasana meriah. Hal ini mubah jika dilaksanakan pada perayaan yang dibolehkan, seperti menyanyi pada hari raya, pernikahan, saat kedatangan tamu jauh, saat walimah, aqiqah, ketika kelahiran anak, acara khitanan, dan perayaan sebab berhasil menghafal Al-Qur’an. Dalam semua acara itu menyanyi dibolehkan untuk menampakkan kegembiraan. Kebolehan ini berdasarkan riwayat acara yang dibuat oleh para wanita di atas loteng dengan menabuh rebana dan melantunkan lagu-lagu ketika menyambut kedatangan Rasulullah SAW”, yaitu dengan sholawat badar:

Telah datang bulan purnama pada kami

Dari Tsaniyah al-Wada’

Maka wajiblah syukur bagi kami

Selagi orang-orang itu selalu mengajak kepada Allah

  1. Penutup

Berdasarkan peristiwa penyambutan kedatangan Nabi SAW ketika hijrah yang diterangkan dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din, menyanyi dan menabuh rebana diperbolehkan dalam Islam.

Referensi:

  1. Ihya’ Ulum ad-Din karya al-‘Allamah Imam al-Ghazali

[1] Ditulis oleh Muhammad Zuhdi Kurniawan, Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Maliki. Uraian singkat ini disampaikan dalam Forum Halaqoh Ilmiah Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

[2] Ihya’ Ulum ad-Din juz 2 halaman 274 – 275.

Tinggalkan komentar »

kitab kuning

yellow book

kitab kuning

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Kitab kuning adalah istilah yang disematkan pada kitab-kitab berbahasa Arab, yang biasa digunakan di banyak pesantren sebagai bahan pelajaran. Dinamakan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning.

Sebenarnya warna kuning itu hanya kebetulan saja, lantaran dahulu barangkali belum ada jenis kertas seperti zaman sekarang yang putih warnanya. Mungkin di masa lalu yang tersedia memang itu saja. Juga dicetak dengan alat cetak sederhana, dengan tata letak lay-out yang monoton, kaku dan cenderung kurang nyaman dibaca. Bahkan kitab-kitab itu seringkali tidak dijilid, melainkan hanya dilipat saja dan diberi cover dengan kertas yang lebih tebal.

Namun untuk masanya, kitab kuning itu sudah sangat bagus, ketimbang tulisan tangan dari naskah aslinya.

Sampai hari ini sebenarnya kitab kuning masih ada dijual di toko-toko kitab tertentu. Sebab pangsa pasarnya pun masih ada, meski sudah jauh berkurang dengan masa lalu. Yang menarik, harganya pun sangat bersaing. Bayangkan, kitab-kitab itu hanya dijual dengan harga Rp 5.000-an saja hingga Rp 10.000, tergantung ketebalannya. Padahal isinya tidak kurang ilmiyah dan bagus dari buku-buku mahal yang berharga jutaan. Kalau dibandingkan dengan cetakan modern, uang segitu hanya bisa buat beli buku saku tipis sekali.

Adapun dari sisi materi yang termuat di dalam kitab kuning itu, sebenarnya sangat beragam. Mulai dari masalah aqidah, tata bahasa Arab, ilmu tafsir, ilmu hadits, imu ushul fiqih, ilmu fiqih, ilmu sastra bahkan sampai cerita dan hikayat yang tercampur dengan dongeng. Keragaman materi kitab kuning sesungguhnya sama dengan keragaman buku-buku terbitan modern sekarang ini.

Secara umum, keberadaan kitab-kitab ini sesungguhnya merupakan hasil karya ilmiyah para ulama di masa lalu. Salah satunya adalah kitab fiqih, yang merupakan hasil kodifikasi dan istimbath hukum yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Para santri dan pelajar yang ingin mendalami ilmu fiqih, tentu perlu merujuk kepada literatur yang mengupas ilmu fiqih. Dan kitab kuning itu, sebagiannya, berbicara tentang ilmu fiqih.

Sedangkan ilmu fiqih adalah ilmu yang sangat vital untuk mengambil kesimpulan hukum dari dua sumber asli ajaran Islam. Boleh dibilang bahwa tanpa ilmu fiqih, maka manfaat Al-Quran dan As-Sunnah menjadi hilang. Sebab manusia bisa dengan seenaknya membuat hukum dan agama sendiri, lalu mengklaim suatu ayat atau hadits sebagai landasannya.

Padahal terhadap Al-Qurandan Al-Hadits itu kita tidak boleh asal kutip seenaknya. Harus ad kaidah-kaidah tertentu yang dijadikan pedoman. Kalau semua orang bisa seenaknya mengutip ayat Quran dan hadits, lalu kesimpulan hukumnya bisa ditarik kesana kemari seperti karet yang melar, maka bubarlah agama ini. Paham sesat seperti liberalisme, sekulerisme, kapitalisme, komunisme, bahkan atheisme sekalipun, bisa dengan seenak dengkulnya mengutip ayat dan hadits.

Maka ilmu fiqihadalah benteng yang melindungi kedua sumber ajaran Islam itu dari pemalsuan dan penyelewengan makna dan kesimpulan hukum yang dilakukan oleh orang-orang jahat. Untuk itu setiap muslim wajib hukumnya belajar ilmu fiqih, agar tidak jatuh ke jurang yang menganga dan gelap serta menyesatkan.

Salah satu media untuk mempelajari ilmu fiqih adalah dengan kitab kuning. Sehingga tidak benar kalau dikatakan bahwa kitab kuning itu menyaingi kedudukan Al-Quran. Tuduhan serendah itu hanya datang dari mereka yang kurang memahami duduk masalahnya.

Namun bukan sebuah jaminan bahwa semua kitab kuning itu berisi ilmu-ilmu syariah yang benar. Terkadang dalam satu dua kasus, kita menemukan juga buku-buku yang kurang baik yang ditulis dengan format kitab kuning. Misalnya buku tentang mujarrobat, atau buku tentang ramalan, atau tentang doa-doa amalan yang tidak bersumber dari sunnah yang shahih, atau cerita-cerita bohong yang bersumber dari kisah-kisah bani Israil , juga ditulis dalam format kitab kuning.

Jenis kitab kuning yang seperti ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari ilmu-ilmu keIslaman yang benar. Dan kita harus cerdas membedakan matreri yang tertuang di dalam media yang sekilas mungkin sama-sama sebagai kitab kuning. Dan pada hakikatnya, kitab kuning itu hanyalah sebuah jenis pencetakan buku, bukan sebuah kepastian berisi ilmu-ilmu agama yang shahih. Sehingga kita tidak bisa menggeneralisir penilaian kita tentang kitab kuning itu, kecuail setelah kita bedah isi kandungan materi yang tertulis di dalamnya.

Wallahu a’lam bishshawab,

kitab kuning

6 Komentar »

Aremania Dulu, Kini dan Nanti

Aremania sesuatu fenomena yang luar biasa dan sebetulnya menggambarkan banyak tentang Malang. Dalam waktu agak singkat para suporter Arema mengalami semacam transformasi total. Mereka mulai sebagai berbagai kelompok yang cenderung ke premanisme dan persaingan brutal. Aremania muncul karena geng-geng Malang mulai luntur tetapi karena Aremania geng-geng itu tidak muncul lagi. Aremania pada pertengahan 1990-an mulai misinya menghapus sejarah hitam dan mendorong perkembangan komunitas suporter yang sportif dan atraktif. Namun tekanan dana atau terhadap musul Aremania telah menjadi suporter teladan Indonesia. Lagipula mereka termasuk semacam budaya atau komunitas dalam masyarakat Malang yang mendorong persatuan dan kedamaian. Yaitu pengaruh Aremania lebih luas daripada perkembangan komunitas sepak bola Indonesia. Aremania sangat mempengaruhi perkembangan masyarakat Malang khususnya selama lima tahun yang lalu. Aremania dulu : Sejarah perubahan total para suporter Arema menarik juga sebagai sejarah Malang bukan sejarah suporter saja. Sejarah hitam ada, yaitu reputasi buruk yang masih berlaku berasal dari keadaan benar-benar buruk. Suporter Arema sekarang tidak sama sekali mangagungkan zaman tersebut. Sebenarnya mereka malu pada masa dulunya. Mengenai konflik dengan suporter Surabaya mereka masih merasa benci pada mereka. Aremania sulit menerima Bonek karena mereka masih memenuhi peran provakator. Namun Aremania sudah berkembang menjadi suporter murni, Bonek itu masih hooligan, yaitu musuh suporter sepak bola. Dengan suporter lain seperti dari Jakarta,Solo, Makasar, Balikpapan dan lain-lain Aremania sudah bersahabat. Bersama-sama komunitas suporter murni dibangun. Aremania mulai berubah lebih dari beberapa tahun yang lalu dan itu mulai diakui. Lagipula tim kesayangannya bisa mencapai prestasi tinggi karena suporter telah lebih maju. Aremania saat ini: Aremania benar-benar atraktif, sportif dan kreatif. Ini yang sudah diakui masyarakat Malang dan Indonesia pada umumnya. Pertandingan Arema itu telah aman dan nyaman untuk ditonton oleh semua kalangan. bahkan dengan kaum hawa yang dulunya takut untuk menonton pertandingan bola, sekarang mereka telah dengan aktif untuk turut serta memberikan dukungan kepada Arema kala bertanding. Kaum hawa telah membentuk kelompok supporter sendiri dalam mendukung Arema, yaitu Aremanita. Dan hal ini pula yang menjadikan Arem sebagai voulentir yang mempunyai kelompok supporter dari kalangan kaum hawa yang pada akhirnya dicontoh oleh kelompok-kelompok supporter dari klub bola yang lain. Seperti The Jack Angel, Bonita dan lain2. Lagipula Aremania itu sekarang menjadi sesuatu yang khas Malang. Walaupun Aremania benar-benar meniru sesuatu yang telah ada di Eropa, peniruan itu telah disesuaikan dengan konteks Malang sendiri. Aremania sudah mempengaruhi Malang secara positif. Slogan “Loyalitas Tanpa Batas” dibuktikan oleh Aremania yang selalu mendukung kemanapun Arema berlaga, sampai tanah papua pun Aremania tetap hadir untuk memberikan dukungan. Cucuran darah pun Aremania persembahkan demi mendukung Arema. Istilah “Daboribo” (Damai Boleh Ributpun Boleh) yang akan selalu Aremania sampaikan kepada supporter lawan, karena Aremania cinta damai. Akan tetapi jika ada yang menampar Aremania, Aremania bukannya tidak melawan. Aremania juga punya harga diri. Jargon “Arema tidak kemana tapi ada di mana-mana” telah terbukti. Karena walau Arema tetap ada di Malang, tidak akan pindah ke mana-mana, akan tetapi pendukung Arema telah tersebar di seluruh dunia. Dan mereka selalu bangga dengan Arema-nya. “Salam Satoe Jiwa” nya Aremania telah menyatukan berbagai elemen masyarakat dan pecinta bola, baik antar Aremania maupun dengan kelompok supporter lainnya. Aremania di Masa Depan: Tanggapan buruk terhadap Aremania akan perlu waktu untuk luntur. Pasti untuk lama ada orang di Malang dan di luar yang akan menganggap Aremania sebagai kelompok brutal. Namun yang lebih penting adalah bahwa perilaku para suporter sudah berubah. Proses Aremania mengubah dirinya walaupun sudah lama jalan masih belum selesai. Aremania harus tetap menjaga nama baiknya. Reputasinya bisa dirusak dengan provokasi dari kelompok yang iri pada Aremania. Oleh karena itu misi Arema masih jalan. Aremania berdasarkan pada keberadaan Arema dan hidup Arema tergantung pada Aremania. Keduanya tidak bisa dibagi tanpa menghancurkan keduanya. Karena itu kalau meneliti soal suporter hal klub tidak bisa dihindari. Arema bisa dapat sponsor besar dan mencapai prestasi bagus, namun kalau itu belum ada Aremania akan selalu mendukung Arema. Karena semangat itu Aremania untuk lama akan merupakan sesuatu aspek hidup masyarakat Malang. Mudah-mudahan pada masa depan Aremania bisa berkembang menurut sikap positif yang telah menjai aspek inti suporter Arema. Ayas sebagai penulis merasa bahwa aremania bukan mengejar kuantitas, tapi kualitas lah yang terpenting. Aremania bukan mau menjadi yang terbaik (karena mau menjadi yang terbaik itu bukan berarti akan baik terus), tapi menjadi yang baik-baik saja. “Hati, Jiwa, dan Raga kami untuk Arema”, karena kami Aremania……………

<a href=”http://

aremania jos

aremania

aremania.com“>Aremania dot com/a>

 

Tinggalkan komentar »

PERUBAHAN STRATIFIKASI DAN STRUKTUR MASYARAKAT

PROSES-PROSES PERUBAHAN SOSIAL:
PERUBAHAN STRATIFIKASI DAN STRUKTUR MASYARAKAT

Suhirmanto, A555010081

Perubahan stratifikasi dan struktur masyarakat ditelaah dari tiga bacaan
Tulisan Sosrodihardjo (1972) membicarakan perubahan struktur masyarakat dalam kaitannya dengan dinamika pembentukan kelas-kelas pemasaran pribumi di Jawa. Asumsinya adalah bahwa gejala perebutan pemasaran antar berbagai golongan dalam masyarakat menandai terjadinya perombakan dalam struktur masyarakat bersangkutan. Dari sini, kemudian diajukan suatu tesis bahwa perubahan dalam struktur pemasaran akan menimbulkan perubahan dalam struktur masyarakat secara keseluruhan.
Selanjutnya dinyatakan bahwa perubahan struktur pemasaran itu sendiri (yang membawa pada perubahan struktur masyarakatnya) dalam sejarah masyarakat Jawa berlangsung terutama dalam masa-masa kekacauan, dalam hal ini terutama menyertai pergolakan-pergolakan peperangan. Selama masa ketidakpastian ini terjadi kondisi ketidakmenentuan yang mengakibatkan adanya perasaan terombang-ambing antara harapan dan kecemasan. Ikatan tradisi mulai retak dan orang makin terdorong kepada keinginan untuk mencoba nilai-nilai baru dan menguji sampai seberapa jauh ia dapat memaksakan hasrat pribadinya dalam situasi yang serba tidak pasti ini. Menurut Sosrodihardjo, jika di dalam suatu masyarakat telah timbul harga diri dan tuntutan penghargaan yang lebih tinggi semacam ini, maka hal itu menandakan bahwa sudah mulai ada perubahan dalam struktur masyarakat, yakni perubahan dalam sistem-sistem status dan kedudukan. Jika tuntutan atas penghargaan ini disertai dengan kekuatan dan kekuasaan, maka nyatalah bahwa di sini terdapat kelas baru yang sedang muncul dan ingin memperluas cengkeraman pengaruhnya.
Sosrodihardjo menjelaskan perubahan struktur masyarakat Jawa dalam pengertian seperti yang disebutkan di atas dalam berbagai babakan periode. Pada masa pra-kolonial, tepatnya pada jaman kerajaan Majapahit, pemasaran komoditas pasar yang penting dikuasai oleh negara, meskipun secara tidak langsung. Pelabuhan-pelabuhan penting yang ramai dengan perdagangan di-kuasai oleh kerajaan, seperti pelabuhan-pelabuhan di Tuban, Gresik, dan di Surabaya. Hal ini terus berlangsung sampai Majapahit mengalami kemunduran ketika pemasaran dikuasai secara langsung oleh para bupati di daerah dengan tidak menghiraukan lagi kekuasaan Majapahit. Hal ini mengantarkan pada terbentuknya kelas pemasaran baru, yang dikuasai oleh raja-raja Islam.
Kedatangan VOC telah menghapus seluruh kelas pemasaran di Jawa dan pengusaha-pengusaha Belanda sekarang menguasai pemasaran sepenuhnya. Sedangkan pemasaran perantara diserahkan kepada “orang-orang timur asing”, yang sebagian besar dikuasai oleh bangsa Tionghoa. Di daerah-daerah di mana kekuasaan Belanda belum intensif, khususnya di daerah kekuasaan raja-raja Jawa, terdapat sisa-sisa kelas pemasaran Jawa. Mereka ini sudah tidak berdaya lagi tapi kelak akan muncul lagi pada saat struktur kekuasaan kolonial mulai menyediakan peluang. Hal ini tepatnya terjadi pada awal abad XX dengan munculnya organisasi Boedi Oetomo sebagai gerakan yang dipimpin oleh sisa-sisa kelas pemasaran kerajaan yang ingin menguasai kem-bali sebagian dari struktur pemasaran. Tetapi organisasi ini basis massanya lemah karena membatasi diri pada suku Jawa, terlebih lagi anggotanya hanya terdiri dari kaum cerdik pandai, yaitu para pegawai negeri dan kalangan bang-sawan. Maka bisa dimengerti jika gerakan ini segera diungguli oleh Sarikat Dagang Islam (kemudian menjadi SI) yang kendati sama-sama muncul dari lingkungan keraton (Laweyan, Solo), namun pengaruhnya dapat berkembang ke desa-desa dan menjangkau massa banyak. Hal ini karena gerakan yang terakhir memberikan tantangan langsung kepada kekuasaan kolonial (kelas pemasaran tertinggi) dan golongan Tionghoa (kelas pemasaran menengah/perantara) yang kegiatan-kegiatannya telah menyengsarakan rakyat banyak.
Ketika zaman malaise terjadi, pemerintah kolonial dipaksa mencari sumber-sumber dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sendiri. Maka keluarlah ordonansi tahun 1939 tentang Maskapai Andil Indonesia yang memberi angin bagi terbentuknya kelas pemasaran pribumi. Muncullah para pengusaha pribumi khususnya yang bergerak di bidang tekstil, rokok kretek, dan pemasaran beras. Hal ini berakhir ketika Jepang masuk. Pada masa ini marak praktek pencatutan sehingga praktis tidak ada kelas pemasaran baru. Meski demikian, dengan langkanya bahan pangan, maka di desa-desa timbul usaha-usaha untuk menguasai pemasaran beras terutama melalui pasaran gelap dan dilakukan khususnya oleh para petani kaya dan para aparat desa. Sementara itu, kalangan Tionghoa yang menguasai pemasaran perantara kini mendapat tekanan yang berat dan tidak lagi memperoleh perlindungan seperti pada era pemerintahan sebelumnya.
Pada era kemerdekaan, para petani pemilik tanah yang makin terbuka pada kontak intens dengan kota dan pada mobilitas horisontal, terus berusaha menguasai pemasaran beras yang menyebabkan terjadinya komersialisasi pertanian. Akibatnya, para buruh tani makin terjepit dan kecenderungan stratifikasi di pedesaan dirasakan menajam. Petani-petani kaya mulai kritis terhadap kewajiban-kewajiban sosial yang dianggap merugikan mereka; hal mana mendorong mereka berpaling pada model-model agama yang membebaskan dari kewajiban-kewajiban sosial tadi (dalam hal ini gerakan-gerakan reformasi agama). Sementara buruh tani yang terdesak dan tidak memiliki kesempatan menguasai pemasaran memilih berpaling pada praktek-praktek mistik. Dalam pada itu, mobilitas vertikal dari kelas pemasaran pribumi petani ini mendapat tantangan dari kelas pemasaran lama, yakni golongan Tionghoa. Mereka ini melakukan infiltrasi lewat berbagai jalur (partai, agama), dan akhirnya, setelah bergandengan dengan militer pasca geger 65, golongan Tionghoa ini menjadi kelas pemasaran tertinggi. Hal ini terus berlangsung hingga sekarang.
Sedangkan, Wertheim (1999) mengulas tentang perubahan struktur masyarakat di kawasan Asiatik, khususnya di India. Perubahan yang dimaksud adalah berubahnya struktur masyarakat dari kondisi yang relatif tetap (meskipun mengalami perubahan dinasti yang tak pernah berhenti) kemudian mengalami pergeseran dengan terbentuknya kelas-kelas baru di tingkat suprastruktur negara-negara Asia sebagai dampak dari kapitalisme. Terdapat empat tahap perkembangan yang terjadi di kawasan Asia. Pertama; dalam bidang ekonomi, dampak kapitalisme dapat dirasakan dalam berbagai hal, bergantung pada keeratan keterlibatan hubungan politik antara negara yang menguasahi dengan masyarakat yang dikuasahi. Masyarakat India adalah yang pertama kali menderita akibat kapitalisme Barat. Melalui perlindungan yang diberikan oleh Pemerintah Inggris terhadap industri di Inggris mengakibatkan matinya industri takstil tradisional di India, karena kekuatan kolonial Inggris melimpahkan produk-produk Inggris untuk masyarakat India. Dan diikuti oleh negara-negara lain di wilayah Asia, seperti Birma. Kapitalisme berdampak pada masuknya ekonomi uang ke negara-negara Asia Selatan dan Tenggara. Dalam keadaan demikian para petani tidak dapat bertahan dari produksi esklusif subsistensinya, mereka juga harus mencari pendapatan tambahan, sehingga mereka terlibat pada mekanisme pasar secara murni yang bergantung pada fluktuasi harga, yakni pertama, mereka harus menanam tanaman yang berorientasi pasar, kedua mereka harus bekerja pada perkebunan-perkebunan tanaman komersial. Akibatnya terdapat sebagian masyarakat petani, karena memiliki kemampuan adaptif dalam sistim yang baru sehingga mencapai kemakmuran tertentu dengan demikian mengancam hak istimewa kelompok penguasa dan kelompok elit. Kemudian terdapat pula sejumlah petani, yang karena tidak memiliki kemampuan adaptif dalam sistem yang baru maka mereka menjadi proletar.
Kedua; pada tahap berikutnya, perubahan yang paling nampak di negara-negara koloni menurut Wertheim adalah golongan putih yang menempatkan diri mereka di atas sistem status penduduk asli dan sebagai lapisan atas baru yang mirip kasta. Dalam sistem demikian golongan putih memisahkan secara sosial dengan penduduk pribumi dalam bentuk superior dan inferior di berbagai aspek, yaitu ekonomi dan politik.
Ketiga; selanjutnya Wertheim mengungkap munculnya Borjuis Asia merupakan dampak kapitalisme di negara-negara kolonial. Hal ini sebagai pengaruh dari masyarakat Eropa Barat yang terdiri atas pedagang, industrialis, dan yang menjalankan profesi liberal. Mekanisme pembentukan borjuis Asia dapat ditilik dari: pertama: para usahawan golongan Timur yang berpikiran kapitalis, melalui perjuangan dalam lingkungan enterpreuneur Barat untuk memperoleh kekuasaan memperluas perdagangan dan industri. Kedua, salah satu fungsi penting untuk menjalankan perusahaan besar, tekstur sosial kapitalisme memerlukan personil yang berpendidikan, pendidikan diperlukan untuk membentuk “kelas menengah yang tergantung” yang tidak sama dengan pekerja kerah putih Barat. Pada tahap berikutnya pendidikan yang diberikan oleh Barat, justru berfungsi sebagai bom waktu bagi sistim status kolonial. Karena dengan pendidikan, membentuk kesadaran individual sebagai bangsa yang sedang dibawah kekuasaan kolonial, dan merupakan pembatas kemajuan bagi bangsa mereka. Melalui kesadaran nasionalisme dan di bawah panji-panji ideologi yang sama kaum borjuis Timur melakukan perlawanan secara kolektif terhadap kekuatan kolonial asing. Meskipun nasionalisme merupakan gerakan idealistik, namun bukan merupakan satu-satunya pemicu gerakan tanpa memperhatikan basis material penggeraknya. Kemiskinan dan ketertekanan, masuknya budaya luar, media informasi, dan kontak dengan budaya luar merupakan basis material gerakan politik dibawah bimbingan kaum borjuis yang mentranformasi gerakan terhadap “kerinduan akan surga imajiner yang hilang” menuju pada kehidupan yang lebih baik. Gerakan-gerakan semacam ini sangat efektif untuk melawan kekuasaan manapun yang dianggap sebagai asing, serta mempunyai karakter perjuangan kelas melawan entepreuneur asing seperti di Filipina, Siam, Burma, dan Chosin-Cina, yang melawan kelas menengah asing.
Tahap keempat; ditandai pembalikan fakta tindakan, yaitu trend dari tindakan individualistik menuju tindakan kolektif. Munculnya borjuis Timur yang bergerak dalam berbagai bidang usaha perdagangan dan industri, dalam pergerakan usahanya tidak bisa lepas dari model persaingan di antara mereka sendiri. Hal itu terlambat disadari oleh golongan mereka sendiri, bahwa persaingan pada akhirnya menuju pada suatu model usaha yang monopolistik, dan pada waktu yang sama mereka akan terancam oleh munculnya proletariat Timur yang dengan sendirinya membangunkan kesadaran kelas melalui slogan-slogan nasionalisme. Ditengah-tengah ritme persaingan antar borjuis dalam usahanya, pada saat itu anggota kelas mencari dukungan yang didasarkan pada basis kelompok maupun basis kekeluargaan. Sehingga apabila, kegiatan usaha di sektor industri dan perdagangan yang dicirikan dengan model persaingan antar individu tersebut melemah maka, persaingan bukan lagi merupakan persaingan individu melainkan merupakan persaingan antar kelompok. Dengan demikian kelompok berfungsi sebagai akomodasi aspirasi sosial dari individu-individu dalam sifat-sifat yang distinktif . Solidaritas kelompok tersebut tidak hanya melanda pada golongan borjusi saja melainkan, tekanan kemiskinan dan kesengsaraan yang dirasakan oleh golongan proletariat, kemudian golongan pekerja yang telah mulai kehilangan ikatan kekerabatan dan tradisi membentuk ikatan-ikatan baru menjadi serikat pekerja, kemudian munculnya kelompok genealogis yang merasa terisolasi dari komunitas desa dsb. Terbentuknya ikatan-ikatan baru yang didasarkan pada basis kemiskinan, kesengasaraan, penindasan, kepartaian, serta agama merupakan pemicu perubahan pada sektor kelompok yang berpengaruh pada struktur dan stratifikasi.
Selanjutnya, Sarman (1994) menjelaskan perubahan struktur masyarakat dalam pengertian perubahan perilaku okupasi mereka sebagai petani plasma dalam perkebunan karet. Perubahan ini dijelaskan sebagai akibat dari diperolehnya status pemilikan dan penguasaan lahan menjadi hak milik pribadi. Sarman menjumpai bahwa diperolehnya hak milik tanah secara pribadi ini ternyata menimpulkan akibat yang berbeda dalam perilaku okupasi para petani antara mereka yang berasal dari etnis Banjar dan dari etnis Jawa. Pada kelompok pertama ada kecenderungan untuk melakukan eksploitasi secara berlebihan yang dalam jangka panjang justru merugikan mereka karena akan memperpendek usia produktif pohon karet. Selain itu, kelompok ini juga cenderung berperilaku konsumtif yang akhirnya akan mendorong mereka untuk melakukan eksploitasi lebih banyak guna memperoleh untuk keuntungan dalam waktu singkat. Sementara pada kelompok kedua sebaliknya sangat berhati-hati dalam melakukan eksploitasi dan keuntungannya lebih banyak di-investasikan untuk pendidikan anak.
Karangka Teoritis Tentang Perubahan Struktur
Sosrodihardjo menjelaskan proses perubahan struktur masyarakat sebagai akibat dari terjadinya pergeseran kelas pemasaran dari masyarakat itu. Perubahan dalam struktur pemasaran akan menimbulkan perubahan dalam struktur masyarakat secara keseluruhan, namun kondisi tersebut bergantung pada fakta circumstancial. Sedangkan Wertheim, menjelaskan perubahan struktur yang ditandai dengan pengaruh kapitalisme yang mengakibatkan pemiskinan, selanjutnya penempatan nilai-nilai baru di atas sitem masyarakat asli, kemudian tahapan munculnya borjuis lokal, yang dikaitkan dengan faktor pendidikan dan idealisme golongan lokal terhadap pemikiran Barat dan kemudian tindakan kolektif yang berbasis solidaritas kelompok. Kesemua itu merupakan tahapan perkembangan perubahan struktur pada masyarakat. Akhirnya, Sarman menjelaskan perbedaan pola akupasi antara dua kelompok etnis dalam menanggapi status sosial dan ekonomi mereka setelah memiliki lahan pribadi dengan melacaknya pada perbedaan rasionalitas dan etos kerja mereka yang berakar dari dua orientasi kebudayaan yang berbeda.
Selanjutnya jika dikaji dari perspektif pemicu perubahan, ketiga studi ini ada yang menekankan pada kondisi-kondisi circumstantial (khususnya Sosrodihardjo menyebut dengan masa-masa kekacauan yang disertai dengan pergolakan), kemudian, Wertheim cenderung proses prubahan struktur melalui tahapan-tahapan dan disertai proses-proses yang dipicu dari faktor solidaritas dari sebuah ideologi, yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, dan ada pula (yakni yang terakhir) yang cenderung menempatkan faktor identitas budaya sebagai faktor yang menentukan terjadinya perubahan tersebut. Dengan demikian perubahan sosial, jika dilihat secara holistik perlu mempertimbangkan proses perubahan yang bersumber dari sosio-genetiknya, kemudian mempertimbangkan faktor basis material dan ideal sebagai pemicunya.

Daftar Bacaan
Wertheim, W.F. Masyarakat Indonesia Dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial. Penerbit PT. Tiara Wacana Yogya. Tahun 1999.
Sarman, Muhtar. Perubahan Status Sosial dan Moral Ekonomi Petani. Prisma, No. 7 Tahun 1994. Pp 69-88.
Sosrodihardjo, Perubahan Struktur Masyarakat di Djawa. Suatu Analisa. Yogyakarta: Karya. Tahun 1972. pp 11-106.

Tinggalkan komentar »

Megat Sati Raja

Tiada ditemui suatu senarai yang lengkap mengenai nama-nama murid Syeikh Nuruddin ar-Raniri, iaitu ulama terkenal yang berasal dari India yang menetap lama di Pahang dan Aceh. Berdasarkan judul tersebut, penulis nyatakan bahawa ulama yang berasal dari Aceh ini murid kepada Syeikh Nuruddin ar-Raniri adalah berpandukan karyanya yang akan dijelaskan dalam rencana ini. Dalam beberapa catatan sejarah ada menyatakan bahawa dua orang ulama Melayu yang terkenal iaitu Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri dan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati Makasar adalah antara murid Syeikh Nuruddin ar-Raniri. Maka ulama yang akan diperkenalkan pada rencana ini adalah hidup sezaman dengan kedua-dua ulama yang berasal dari Aceh dan Bugis itu. Walaupun Megat Sati al-Asyi mengaku sebagai seorang murid kepada Syeikh Nuruddin ar-Raniri, namun beliau tidak banyak membuat catatan tentang ulama yang berasal dari India itu. Bahkan dalam karyanya juga selari dengan jalan pemikiran yang bercorak sufisme dengan Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Samsuddin as-Sumatra-i. Dalam penelitian yang penulis lakukan, ternyata memang belum ditemui sebuah karya dalam bahasa Melayu mengenai muqaranah sembahyang yang menggabungkan ajaran Mazhab Syafi‘ie dengan ajaran sufi seperti yang dilakukan oleh Megat Sati al-Asyi yang akan diperkenalkan dalam rencana ini. Ulama ini menulis nama lengkapnya iaitu “Muhammad Ali namanya, dalam syajarah Mansur namanya. Yang masyhur Megat Sati Raja ibnu Amir Sulaiman ibnu Sa‘id Ja‘afar Sadiq ibnu Abdullah…” Di akhir namanya, disambung pula dengan kalimat,”…diampun bahaginya dengan bagi mereka sekalian al-Asyi baladan…” Pada terjemahannya beliau menulis, “Aceh nama negerinya Par‘ani”. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahawa beliau adalah termasuk di kalangan orang besar atau ternama. Perkataannya “…dalam syajarah…”, bererti nama beliau juga terukir dalam sejarah, dan perkataan “syajarah” boleh diertikan dengan “susur galur keturunan yang terdapat dalam sesuatu salasilah orang baik-baik”. Oleh itu, baik dalam sejarah mahupun silsilah, nama beliau dikenali sebagai nama ‘Mansur’. Kemudian beliau menyatakan namanya yang masyhur iaitu Megat Sati Raja ibnu Amir Sulaiman ibnu Sa’id Ja’afar Sadiq ibnu Abdullah al-Asyi. Oleh itu, namanya yang asli Muhammad Ali tidak disebut-sebut lagi kerana telah ada namanya yang masyhur. Pendidikan Mengenai pendidikan beliau sebagaimana yang dinyatakan sebelum ini bahawa beliau adalah murid Syeikh Nuruddin ar-Raniri , beliau menulis, “Dan ia daripada tilmiz, murid Syeikh Nuruddin ibnu Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid, Raniri negerinya, Syafi‘ie nama mazhabnya, Bakri nama bangsanya”. Penonjolan nama gurunya berkemungkinan disebabkan beberapa faktor, salah satu darinya berkemungkinan Syeikh Nuruddin ar-Raniri itu adalah gurunya yang terakhir. Melalui gurunya itu berkemungkinan juga beliau memperoleh sebahagian besar ilmu pengetahuan yang ada padanya. Mungkin juga untuk mengelakkan keraguan orang akan kandungan karyanya yang bercorak sufisme yang tidak bercanggah dengan pendirian Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i. Sedangkan beliau hidup pada zaman Sultan Iskandar Tsani yang menghendaki karya-karya sufi kedua-dua ulama terkenal itu dimusnahkan. Dengan ditampilkan nama gurunya, Syeikh Nuruddin ar-Raniri adalah diharap karyanya tidak menjadi korban pengharaman penguasa pada zamannya. Tetapi menjadi persoalan penulis kerana ulama ini tidak menyebut nama guru-gurunya yang lain. Apakah sepanjang hidupnya hanya Syeikh Nuruddin ar-Raniri sahaja gurunya, sedangkan di Aceh pada zaman itu sangat ramai ulama. Pegangan keagamaan yang dianuti oleh beliau dijelaskan melalui karyanya bahawa beliau mazhab Syafie dari segi pemahaman dan pengamalan fiqh dan Mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dari segi akidah. Pegangan mengenai tasawuf pula tidak dijelaskan oleh beliau, tetapi melalui karyanya menunjukkan bahawa beliau menggabungkan dua aliran tasauf, iaitu tasauf sunni dan tasauf falsafi. Mengenai tarekat yang diamalkannya juga tidak jelas walaupun pada bahagian akhir karyanya membahas jenis dan metode zikir tetapi tidak menyebut nama sesuatu tarekat. Beliau hanya menamakannya dengan “zikir ahlillah” dan “zikir ahlis sufi” sahaja. Data karya Karya beliau yang ditemui hanya sebuah sahaja, iaitu Syarabul ‘Arifin li Ahlil Wasilin, diterjemahkan oleh beliau sendiri iaitu Minuman segala ‘Arif billah Bagi Segala Orang Yang Telah Wasil Kepada Allah. Kitab ini diklasifikasikan kepada manuskrip nadir kerana tidak banyak diketemui, bahkan tidak diketahui di mana ianya tersimpan. Sepanjang pengalaman penulis mencari karya-karya lama sejak tahun 1958 hingga kini (Mac 2007), penulis menemui judul tersebut hanya tiga buah sahaja. Sebuah pernah dimiliki oleh seorang teman di Kota Bharu, Kelantan (1977), sebuah manuskrip tersimpan di Muzium Islam Pusat Islam yang berasal dari milik Syeikh Abdul Qadir Bin Musthafa al-Fathani (Tok Bendang Daya II). Naskhah ketiga ditemui oleh penulis sendiri di Chaiya pada awal tahun 1993, selanjutnya dijadikan bahan untuk data rencana ini. Mukadimah karya tersebut menunjukkan satu karya sufi peringkat yang tinggi sebagaimana termaktub, iaitu, “Segala puji bagi Allah, ialah Tuhan yang mentahqiqkan dalam medan qadim. Maka tajallillah Ia bagi-Nya dengan diri-Nya kepada diri-Nya di dalam diri-Nya maka diibaratkanlah daripada-Nya sya’nun zatiyah”. Oleh kerana ditinjau dari segi ilmu isti’arah yang menjurus syathahiyat perkataan sufi yang sangat mendalam ibaratnya, maka cukuplah sekadar itu sahaja yang penulis sanggup salin, kerana penulis tidak berani memindahkan data mukadimah selanjutnya dikhuatiri pentafsiran yang berbeza-beza dari setiap orang akan mengundang kontroversi. Perkataan syatahiyat sufi kita kembalikan kepada para ahlinya. Setelah mukadimah, Megat Sati al-Asyi menjelaskan sebab-sebab beliau menyusun karangan, iaitu “Maka tatkala ku lihat adalah manusia amat banyak bersalahan pada bicaranya takbiratul ihram, serta muqaranah pada ilmu fiqh dan tasauf, maka tergerak pada hatiku dan terlintas pada cintaku, maka ku karang suatu risalah yang tersimpan pada menyatakan muqaranah niat takbiratul ihram pada ilmu fiqh dan tasawuf pada iktikad Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Sebelum memasuki kandungan yang menjadi pokok perbicaraannya, beliau meringkaskan pada mukadimah iaitu, “Mukadimah pada menyatakan segala ahli tasauf dan amalnya. Dan fasal yang pertama pada menyatakan muqaranah niat dengan takbiratul ihram pada istilah fiqh dan pada jalan syariat. Fasal yang kedua pada menyatakan muqaranah ahlis sufi yang ‘ariful murad pada iktikad Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan dalam kedua fasal itu enam juzuk. Tiga juzuk pada fasal yang kedua. Dan fasal yang ketiga pada menyatakan zikir segala ahlil fana’ dan ahlil mahwi dan ahlil baqa’. Dan khatimah pada menyatakan zikir segala ahlillah”. Ulama ini memulakan perbahasan dengan mengemukakan pendapatnya bahawa orang yang belajar ilmu tasauf pada peringkat awal sebahagian besarnya menurut beliau iaitu, “nescaya jadilah gila atau jatuh kepada hulul atau ittihad atau jatuh kepada mengharuskan kepada mulhid hingga mulhid”. Lalu beliau menegaskan, “Dan bahawasanya merugilah ia dengan beberapa kerugian yang amat nyata…” Huraian berikutnya adalah mengenai muqaranah niat yang dimulai dengan “Ketahui olehmu, bahawasanya muqaranah niat serta takbiratul ihram pada jalan syariat pada istilah segala ulama ahlil fiqh, atas tiga juzuk. Juzuk yang pertama menyatakan muqaranah ‘Urfiyah. Juzuk yang kedua, muqaranah Basthiyah. Juzuk ketiga, muqaranah Tauzi‘iyah”. Beliau menghuraikan ketiga-tiga juzuk muqaranah niat yang tersebut menurut huraian ulama-ulama fiqh. Antaranya Imam Abdullah Muhammad ibnu Qasim dan Imam Nawawi, yang kedua-duanya merupakan ulama besar dalam lingkungan Mazhab Syafie. Penghuraian diteruskan secara sufi, dimulai dengan kata beliau, “…muqaranah niat serta takbiratul ihram pada ulama ahlis sufi yang ‘ariful murad, dan inilah segala ehwal Nabi s.a.w dan segala ehwal khulafaur rasyidin, dan segala ehwal yang mengikut mereka itu sekalian, bagi mereka itu kebajikan hingga datang kepada hari kiamat. Dan dalamnya tiga juzuk…”. Ketiga-tiga juzuk muqaranah niat pada istilah ulama fiqh tersebut masih tetap digunakan tetapi huraiannya menurut pandangan ulama sufi. Mengenai Muqaranah ‘Urfiyah dari kaca mata sufi dimulai dengan katanya, “Ketahui olehmu, bahawasanya muqaranah yang ‘urfiyah itu, iaitu muqaranah segala orang yang am diri pada segala ahlis sufiyah yang ‘ariful murad. Adapun ‘urfiyah Mu‘min pada segala ahlis sufiyah itu, iaitu dihudhurkannya yang menyahaja akan sembahyang itu daripada permulaan mengambil air sembahyang dan segala rukun sembahyang…” Dibahas pula pengertian qasad’, menurut beliau, “Menyahaja akan mengerjakan sembahyang, maka yang menyahaja itu, iaitu hakikat dirinya yang pada martabat wahdatit tafsil. Maka ta‘arrudh itu, martabat ‘alam asrar. Maka ta‘aiyun itu, iaitu dirinya yang lathif yang pencar dan percik daripada abu arwah (asal sekalian roh)…” Demikianlah contoh huraiannya yang panjang mengenai bahagian muqaranah ‘Urfiyah. Mengenai muqaranah Basthiyah menurut sufi, dimulai dengan perkataannya, “Ketahui olehmu, bahawasanya muqaranah basthiyah itu, iaitulah yang lebih tinggi daripada muqaranah yang lain pada yang pertama. Dan iaitulah muqaranah segala Nabi, dan segala Qutub, dan segala yang mengikut mereka itu”. Huraian Muqaranah Basthiyah ini, beliau merujuk kepada Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi. Syeikh Abu Taiyib al-Makki dan lain-lain, bahawa “niat itu rahsia daripada segala rahsia dan tempatnya pada sirrul khafi”. Manakala Muqaranah Tauzi‘iyah menurut sufi, Megat Sati al-Asyi memulakan dengan katanya, “…maka niat yang dimuqaranahkannya itu, iaitu, “Ku sembahyang akan fardhu Zohor atau Asar”, atau barang sebagainya”. Maka sebenar-benarnya yang mengatakan “Aku” itu, iaitu yang sebenar-benar dirinya yang martabat ahadil jam‘i. Dan ta‘arrudh itu, iaitu yang sebenar-benar dirinya pada martabat wahdatit tafshil. Megat Sati al-Asyi dengan tegas menolak muqaranah tauzi‘iyah tersebut, kata beliau, “Maka muqaranah inilah muqaranah segala Muhammadin zindik hululiyah, lagi ittihadiyah, sekali-kali tiada diterima oleh Allah sembahyangnya dan segala amalnya…” Setelah menghuraikan perkara fana’fillah, baqa’billah dan mahwu, Megat Sati al-Asyi meneruskan perbicaraannya tentang zikir ahlillah pada segala sufi yang fana‘fillah dan baqa’billah, dimulai dengan katanya, “Ketahui olehmu bahawasanya segala zikir ahlis sufi itu dihimpunkan atas lima perkara: Pertama : zikir lisan al-jasad Kedua : zikir lisan al-qalbi Ketiga : zikir lisan ar-ruh Keempat : zikir lisan al-asrar Kelima : zikir lisan az-zat dan lisan al-hal”. Kelima-lima zikir tersebut juga dijelaskan dengan panjang. Setelah itu sebagai penutup, beliau membuat ringkasan dari perkara muqaranah niat menurut ilmu fiqh yang merujuk kepada beberapa kitab mazhab Syafie, di antaranya Nihayatul Muhtaj karya Syeikh Ramli. Kitab yang tinggi nilai keilmuan sufiah ini tidak dinyatakan tahun selesai penulisannya. Oleh itu, sukar untuk penulis mengetahui tahun kehidupan beliau. Walau bagaimanapun disebabkan beliau adalah murid kepada Syeikh Nuruddin ar-Raniri, maka diandaikan bahawa beliau adalah sezaman dengan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati dari Makasar. Selain itu, salah sebuah karya Syeikh Yusuf yang ditulis dalam bahasa Arab banyak persamaan huraiannya seperti termaktub dalam Syarabul ‘Arifin karya Megat Sati al-Asyi. Masa kehidupan Syeikh Yusuf Makasar pula adalah tahun 1629M-1699M. Selain itu, dibandingkan juga dengan Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang wafat 1693M. Perbandingan tahun-tahun hidup dan wafat kedua-dua ulama tersebut kerana mereka adalah murid Syeikh Nuruddin ar-Raniri, sedangkan Megat Sati al-Asyi juga murid ulama yang berasal dari India itu. Oleh itu, tahun kehidupan beliau diandaikan tidak jauh beza dengan kedua-dua ulama tersebut. Mengenai murid dan keturunan beliau, tidak dapat penulis bicarakan kerana ketiadaan data yang lengkap. Syarat mempelajari tasauf adalah banyak. Antaranya: * Hendaklah mengerjakan ibadat yang zahir. * Hendaklah sentiasa berzikir kepada Allah. Kitab-kitab rujukan: * Minhajul ‘Abidin * ‘Ainul ‘Ilmi atau Munjiyat yang termaktub dalam Ihya’ Ulumiddin. sumber

Tinggalkan komentar »

Hukum Merokok

Hukum merokok

A. Haram

Menurut Syeh Abd. Aziz bin Abdillah bin Baz hukum merokok itu haram karena bisa membahayakan kesehatan. Diterangkan dalam kitab Hukmu Syurbu ad-Dukhon Wa Imamati Man Juz 1 Hal.1- 3.

فقد دلت الأدلة الشرعية على أن شرب الدخان من الأمور المحرمة شرعا لما اشتمل عليه من الأضرار ، قال تعالى :

{ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ } فهي من الخبائث المحرمة ، ويؤدي شربها إلى أمراض متعددة تؤدي إلى الموت ، وقال صلى الله عليه وسلم : « لا ضرر ولا ضرار » ، فالضرر بالجسم أو الإضرار بالغير منهي عنه، فشربه وبيعه حرام. كتاب حكم شرب الدخان وامامة من جز 1 ص 1-3

Menurut Imam Al Bajuri merokok juga haram jika membelinya dengan uang jatah nafaqoh keluarga. Dalam kitab al-Bajuri Juz 1 Hal. 343.

….. وقد تعتريه الحرمة اذا كان يشتريه بما يحتاجه نفقة عياله او تيقن ضرره. كتاب البجوري جز 1 ص : 343

B. Makruh

Menurut qoul mu’tamad, seperti pendapat imam Al Bajuri, hukum merokok itu makruh. Dalam kitab Irsyad al-Ihwan: Fi Bayani Ahkami Syurbi al-Qohwah Wa al-Dukhon Hal. 37-38.

(المعتمد انه) اي شرب الدخان (مكروه كما يقول الباجور الافقه) من كتاب البيوع من حاشية على شرح الغاية, وعبارته بعد ذكر القول بالحرمة وهذا ضعيف وكذا القول بانه مباح والمعتمد انه مكروه.

( ارشاد الاخوان: في بيان احكام شرب القهوة والدخان. ص: 38 – 37 )

C. Mubah

Menurut Syeh Ali al-Ajhuri merokok dihukumi sebagai sesuatu yang diperbolehkan. Diterangkan di dalam kitab Takmilah Hasyiah Rod al-Muhtar Juz Juz 27 Hal. 226.

وَلِلْعَلَّامَةِ الشَّيْخِ عَلِيٍّ الْأُجْهُورِيِّ الْمَالِكِيِّ رِسَالَةٌ فِي حِلِّهِ نَقَلَ فِيهَا أَنَّهُ أَفْتَى بِحِلِّهِ مَنْ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ مِنْ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ .قُلْت : وَأَلَّفَ فِي حِلِّهِ أَيْضًا سَيِّدُنَا الْعَارِفُ عَبْدُ الْغَنِيِّ النَّابْلُسِيُّ رِسَالَةً سَمَّاهَا( الصُّلْحُ بَيْنَ الْإِخْوَانِ فِي إبَاحَةِ شُرْبِ الدُّخَانِ )وَتَعَرَّضَ لَهُ فِي كَثِيرٍ مِنْ تَآلِيفِهِ الْحِسَانِ ، وَأَقَامَ الطَّامَّةَ الْكُبْرَى عَلَى الْقَائِلِ بِالْحُرْمَةِ أَوْ بِالْكَرَاهَةِ فَإِنَّهُمَا حُكْمَانِ شَرْعِيَّانِ لَا بُدَّ لَهُمَا مِنْ دَلِيلٍ وَلَا دَلِيلَ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ إسْكَارُهُ وَلَا تَفْتِيرُهُ وَلَا إضْرَارُهُ ، بَلْ ثَبَتَ لَهُ مَنَافِعُ ، فَهُوَ دَاخِلٌ تَحْتَ قَاعِدَةِ الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ وَأَنَّ فَرْضَ إضْرَارِهِ لِلْبَعْضِ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ تَحْرِيمُهُ عَلَى كُلِّ أَحَدٍ ، فَإِنَّ الْعَسَلَ يَضُرُّ بِأَصْحَابِ الصَّفْرَاءِ الْغَالِبَةِ وَرُبَّمَا أَمْرَضَهُمْ مَعَ أَنَّهُ شِفَاءٌ بِالنَّصِّ الْقَطْعِيِّ

( تكملة حاشية ردالمختار جز 27 ص 226 )

D. Wajib

Menurut qoul imam Al Bajuri, hukum merokok itu bisa wajib apabila akan terjadi bahaya jika meninggalkannya dan atau kalau dengan meninggalkan rokok bisa meninggalkan perkara yang wajib. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Bajuri Juz 1 Hal. 343.

……بل قد يعتريه الوجوب كما يعلم الضرر بتركه ( كتاب البجوري جز 1 ص : 343 )

pesantren luhur

4 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.293 pengikut lainnya.